
PALI – Ukhuwahnews | Embun masih menggantung ketika saya menyusuri jalan tanah menuju rumah kayu milik Sumhilal. Cahaya matahari mulai muncul di antara pepohonan Desa Sedupi, Senin, (17/11/25).
Di rumah kayu tua yang ia tinggali sejak bertahun-tahun lalu, saya bertemu Sumhilal (74). Wajahnya menunjukkan garis-garis usia, dan ia tersenyum kecil saat mulai menceritakan masa mudanya sebagai nelayan.

“Aku ini dari tahun 1971 nyari ikan,” ujarnya sambil mengusap wajah.
Ia duduk di beranda rumah, memandang jalan tanah yang menghubungkan desa dengan Sungai Lematang. Dari tempat itu, ia bercerita bahwa hidup sebagai nelayan kini tak lagi berjalan seperti dulu. Sungai tak lagi memberi hasil yang sama.
Baca jug: Leluhur Desa Sedupi: Menyusuri Sejarah Puyang dan Pusaka yang Dihormati
“Dulu banyak, sekarang dak banyak lagi, susah. Seminggu itu paling sekali dapat, kadang idak samo sekali,” katanya disertai tawa tipis. (Dulu banyak, sekarang tidak banyak lagi, susah. 1 Minggu hanya sekali dapat hasil, kadang tidak sama sekali)
Perubahan bukan hanya soal jumlah ikan. Sejumlah lebung (rawa kecil tempat ikan berkumpul) kini dikelola melalui sistem lelang. Sumhilal menyebutnya sebagai perubahan yang membuat nelayan tradisional kehilangan ruang yang dulu mereka manfaatkan tanpa batas.
“Kalu dak melok lelang, dak pacak nyari ikan,” katanya, sembari menunjuk ke arah pematang yang dulu sering ia datangi. “Semua sudah dilelang. Grup-grup yang kelola.” lanjutnya lagi.
Sungai Lematang masih menjadi pilihan terakhir, tetapi ikan di sana semakin jarang. Jaring yang ia pasang kini lebih sering diangkat dalam keadaan kosong.

Tak jauh dari rumah Sumhilal, sebuah rumah panggung tua berdiri menghadap aliran sungai. Di depannya, Badar (73) duduk sambil mengipas debu dari celananya. Ia mengenali saya dari kejauhan dan tersenyum.
“Dulu aku nelayan terus sekarang tidak kuat lagi nyari ikan cuma sampingan,” katanya.
Berbeda dengan Sumhilal yang sesekali masih menurunkan jaring, Badar lebih banyak menghabiskan waktu di sawah. Ia memperlihatkan sebidang tanah di belakang rumahnya, sawah kecil yang ia garap bersama anaknya. Di tanah itu tumbuh padi setinggi lutut
“Menurut saya, petani lebih menjanjikan kebutuhan hidup. Kan, tulang punggung negara itu petani,” katanya sambil tertawa ringan.
Hasil panen tidak besar, namun cukup menutupi kebutuhan makan. Jika ada lebih, mereka menjual sebagian. Di sawah itu pula Badar merasa aktivitasnya lebih teratur dibandingkan menyisir sungai yang tak menentu.
Bantuan pemerintah pun, menurutnya, lebih banyak mengalir untuk kelompok petani. Ada bibit, pupuk, juga alat pertanian. Ia mengaku hampir tak pernah mendengar bantuan serupa untuk peralatan menangkap ikan.
“Petani itu masih dibantu. Nelayan tidak,” katanya datar.
Meski begitu, keduanya mengaku tetap merindukan masa ketika sungai menjadi mata pencaharian.
Pada akhirnya, perjalanan hidup Sumhilal dan Badar adalah potret perubahan zaman. Dari sungai yang tak lagi menjamin ekonomi, mereka kembali ke sawah tempat yang memberi lebih sedikit kejutan dan lebih banyak kepastian. Terlepas dari usia yang tak lagi muda, mereka tetap bekerja untuk bertahan, menyambung hidup dari tanah yang mereka pijak.
Penulis: M. Alvan Tio
Editor: Vivin Noor Azizah
About Post Author
Vivin Noor Azizah
More Stories
Kisah Dua Perempuan Perjuangkan, Warisan Tari Setambul Due
[caption id="attachment_4954" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Dea Aprilia (Pengurus LPM Ukhuwah) PALI-Ukhuwahnews | Tepat di tengah hari, aku mendatangi kediaman...
Sedupi Menangis di Balik Tarian: Siapa yang Akan Menari Setelah Kami?
[caption id="attachment_4883" align="aligncenter" width="1600"] Tiga Maestro penari Tari Si Burung Putih dan kain songket khas Palembang. Minggu, (16/112025) Ukhuwahfoto/Jimas Muamar[/caption]...
Hidup Petani di Sekitar PLTU Kian Terpuruk
[caption id="attachment_4846" align="aligncenter" width="1600"] Lahan petani yang berdekatan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Keban Agung. Minggu (19/10/2025). Ukhuwahfoto/ Marshanda[/caption] Lahat...
Siti Aminah, Penjaga Tradisi Nipah di Tepi Sungai Musi
[caption id="attachment_4623" align="aligncenter" width="1600"] Pengrajin mengikat daun nipah kering yang akan dijadikan rokok pucuk nipah di Kampung Anyaman 3/4 Ulu,...
Aksi Demonstrasi Bukan Hanya Kerusuhan, Wujud Suarakan Kemanusiaan
[caption id="attachment_4466" align="aligncenter" width="1500"] Pengunjuk rasa masuk ke halaman gedung DPRD Sumsel, Senin (01/09/2025). Ukhuwahfoto/Al Dona[/caption] Penulis: Selo Obrian (Pengurus...
Menyusuri Warisan Tionghoa di Tepi Musi
[caption id="attachment_4373" align="aligncenter" width="1280"] Papan bertuliskan sejarah singkat berdirinya Kampung Kapitan yang berada di Kelurahan 7 Ulu Kota Palembang, Senin...

Average Rating