Ogan Ilir – Ukhuwahnews | Desa Lubuk Bandung, daerah di Sumatera Selatan tepatnya terletak di Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir yang wilayahnya seluas 18,55 km². Angka tersebut terbilang besar dengan ukuran geografi di atas 10 km², tapi angka penduduk tergolong rendah, yakni sebanyak 1.471 jiwa atau 79 jiwa/km² (BPS 2023).
Data menunjukkan bahwa wilayah desa ini terbagi menjadi permukiman warga, sawah irigasi (lebih dari 127 Ha), dan sawah tadah hujan (sekitar 13 Ha). Artinya sekitar 1.4 km² wilayah ini dipenuhi oleh hutan yang berfungsi sebagai sumber penghasilan utama bagi masyarakat di sana.
Sebagian besar masyarakat memiliki hak kepemilikan terhadap hutan, dan sebagiannya lagi hingga saat ini masih terjaga kelestariannya milik desa, dikenal dengan sebutan Kebon Desa tetap bertahan dan terjaga sejak zaman kesultanan Palembang. Hingga hari ini hubungan antara masyarakat dan hutan tetap harmonis.

Tukang urut berusia 55 tahun, Leti Umina dikenal sebagai penyembuh demam Tifoid (Typhoid Fever) dan Malaria (Plasmodium) melalui teknik pijat urat kaki serta ramuan tanaman herbal. Penyakit yang umumnya didiagnosis menggunakan alat medis modern, konon ia dapat mengenali penyakit tersebut dengan memijat beberapa titik urat tendon pada kedua kaki pasien, seperti di bagian belakang lutut (Fossa Poplitea) dan di tali tumit.
“Mijet urat kaki itu tuh untuk ngendurke urat perut, supayo khasiat obatnyo masok nian ke badan,” inilah pengakuan yang dikatakan oleh Leti.
Setelah tahu jenis penyakit yang diderita pasien, biasanya Leti akan meramu obat herbal dengan resep turun-temurun. Bahan-bahan dicacah memakai pisau, kemudian dipanggang dan dibungkus daun pisang.


Berikut jenis tanaman herbal yang digunakan di Desa Lubuk Bandung.
Untuk demam Tifoid:
- Kladi Mampu
- Daun Mengkudu
- Kemasau
- Pengendor Urat
- Daun Pakan Utan
- Daun Tetemu Urat
- Daun Mengkudu Hutan
- Daun Kanis
- Tenawan Sodong
Untuk Malaria:
- Daun Kertupan
- Daun Kanis
- Daun Rumput Puyuh

Kendala dalam mencari obat di hutan tua, Leti harus teliti karena tanaman herbal kadang tumbuh di lantai hutan, serta mencari pola urat yang saling terhubung pada helaian daun.
“Takdo tumbuh sikok tempat nak nyari kesiko kesitu, banyak diotu daun yang samo, nak dijingok nian belakang daunnyo tu betemu galo, ado jugo yang tumbuh di bawah susah itu liatnyo,” keluhnya.

Pengobatan dilakukan dengan menempelkan obat ke sisi perut selama tiga hari setiap malam, untuk penyakit Tifoid ditempelkan sebelah kanan, sedangkan Malaria di sebelah kiri.
Teknik pengobatan seperti ini telah bertahan selama empat generasi. Ilmu tersebut tidak pernah diajarkan secara lisan ataupun dibukukan. Pengetahuan ini diyakini diwariskan melalui penyakit yang dialami oleh penerusnya, apabila dapat menyembuhkan diri sendiri maka dianggap sudah pantas mengobati orang lain. Begitu pula dengan tanaman herbal yang digunakan, tidak tercatat secara tertulis dan sebagian besar hanya tumbuh di hutan tua Kebon Desa.
“Dulunyo aku tuh mimpi ketemu Bak (generasi ketiga), dio ngomong aku tuh pacak ngurut. Terus pas bangun aku keno saket yang samo, tapi dak semboh berbulan-bulan. Akhernyo nyari ke utan sambil ngingat obat yang dulu dipake Bak, kareno tak naro dio ngajari,” Leti menceritakan awal mula dirinya mengetahui resep obat.


Ironi kini masalah kerusakan hutan terjadi di berbagai daerah, bahkan dialihfungsikan untuk insfratruktur dan penanaman monokultur. Hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan pengobatan terancam menyusut dan rusak. Padahal, berbagai jenis tanaman herbal bergantung pada keberadaan hutan untuk tumbuh dan lestari.
Leti secara tersirat juga mengungkap kalau salah satu pengobatan tradisional di Desa Lubuk Bandung ini terancam lenyap seiring berkurangnya Kebon Desa.
“Yosudah, kalo utannyo abis, yo berenti ngurut. Nak nyari dimano lagi obatnyo,” keluh Leti.

Jika suatu hari pengetahuan pengobatan ini tetap diwariskan kepada generasi berikutnya, sementara hutannya telah habis, maka warisan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Teknik penyembuhan itu akan menjadi sebatas sebuah ingatan dan cerita di masyarakat.
Editor: Nabilla Kartika Wiranti

Average Rating