Read Time:3 Minute, 52 Second

Palembang – Ukhuwahnews | Kawasan Tepian Sungai Sekanak Palembang, yang merupakan anak dari Sungai Musi, menyimpan jejak panjang aktivitas perdagangan sungai. Dulunya, kawasan ini menjadi salah satu simpul penting jalur jual beli di Kota Palembang.

‎Perahu-perahu pengangkut hasil bumi bersandar rapat di tepian, sementara aktivitas distribusi barang berlangsung sejak pagi hingga petang. Sungai bukan sekadar aliran air dan jalur transportasi, melainkan urat nadi ekonomi warga yang hidup dan menggantungkan penghasilan di sekitarnya.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Di tepiannya, Jukung perahu kayu tradisional yang umum digunakan dalam perdagangan sungai di Sumatra Selatan masih tampak bersandar membawa muatan.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Namun, pemandangan itu kini tidak lagi seramai masa lampau. Jika dahulu jukung datang silih berganti membawa sayur-mayur, buah-buahan, ikan, hingga daging, kini muatan yang dominan adalah kelapa dalam jumlah besar yang ditumpuk tinggi di lambung perahu.

‎Hingga kini, proses bongkar muat di Pasar Sekanak masih dilakukan secara manual oleh kuli angkut yang mengandalkan tenaga fisik tanpa bantuan alat mekanis.

Mereka berjalan dari perahu menuju daratan melalui papan kayu sempit yang dijadikan titian. Aktivitas ini berlangsung berulang kali dalam sehari, menciptakan ritme kerja yang berat dan melelahkan.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Di lain sisi, sistem kerja yang serba manual ini berdampak pada tingginya biaya distribusi dan rendahnya efisiensi. Biaya pelabuhan dan jasa angkut yang berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per muatan menjadi beban tambahan bagi pedagang.

‎“Pasar sepi diakibatkan daging-daging, sayur-sayuran, dan buah-buahan tidak ada, sehingga biaya pelabuhan mahal. Mulai dari harga Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, termasuk muat dan bongkar barang,” ujar Aliong, salah satu pedagang yang masih bertahan.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

Baca juga: Kunci Merawat Warisan Pengobatan Tradisional Khas Desa Lubuk Bandung: Harmoni dengan Hutan

‎Di sudut-sudut pasar, para kuli duduk menunggu giliran kerja. Sebagian berbincang, sebagian lain memandang ke arah sungai menanti jukung berikutnya bersandar. Ketergantungan pada kedatangan perahu membuat aktivitas pasar sangat fluktuatif, jika tidak ada perahu datang suasana pasar menjadi lengang.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Di sisi lain kawasan, bangunan-bangunan lama berdiri mengelilingi pasar. Struktur kayu dan tembok tua masih menopang aktivitas yang tersisa. Dinding dengan cat mengelupas, kayu-kayu lapuk, serta atap yang mulai berkarat menjadi penanda usia bangunan yang tak lagi muda.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar
Ukhuwahfoto/Jimas Muamar
Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Minimnya peremajaan membuat kawasan ini tampak tertinggal dibanding pusat perdagangan lain di kota. Kondisi ini selaras dengan temuan dalam Jurnal Tata Kota oleh Handayani (2020) yang menyebutkan bahwa pasar tradisional berbasis sungai cenderung mengalami degradasi fisik akibat minimnya intervensi kebijakan dan pergeseran orientasi pembangunan kota ke darat. Ketika infrastruktur dan investasi lebih difokuskan pada jalur darat, ruang-ruang ekonomi berbasis sungai perlahan kehilangan daya saingnya.

‎Jika dibandingkan dengan Pasar 16 Ilir dan Pasar Induk Jakabaring, Pasar Sekanak tampak semakin tertinggal. Kedua pasar tersebut telah terintegrasi dengan akses jalan darat yang luas, kendaraan distribusi modern, serta fasilitas pendukung yang lebih memadai. Pergeseran jalur distribusi dari sungai ke darat menjadi faktor utama melemahnya Pasar Sekanak.

‎“Pertama, sudah mulai berkurang karena jalur-jalur banyak jalan darat. Kedua, dahulu pasar ini ramai dan merupakan pasar paling tua dibanding Pasar 16, namun karena keadaan sekarang pasar menjadi sepi,” tutur Shopian.

‎Pergeseran ini, sebagaimana dijelaskan dalam buku Kota dan Transportasi karya Tamin (2016), sering kali menyingkirkan ruang-ruang ekonomi lama yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sistem transportasi. Ketika moda transportasi berubah, pusat aktivitas ekonomi pun ikut bergeser, meninggalkan kawasan yang sebelumnya menjadi poros utama.

Kini, wajah Pasar Sekanak lebih identik sebagai titik bongkar muat kelapa dan tempat berkumpulnya para kuli angkut dibanding sebagai pasar dengan ragam komoditas.

Lapak-lapak yang dahulu menjajakan kebutuhan pokok, sekarang banyak yang kosong atau hanya difungsikan sebagian. Aktivitas jual beli berlangsung dalam skala kecil dan tidak lagi menjadi pusat keramaian seperti masa lalu.

Ukhuwahfoto/Jimas Muamar
Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

‎Kini, Pasar Sekanak berada dalam posisi yang dilematis. Ia masih menyimpan identitas sebagai pasar darat tertua di Tepian Sungai Sekanak, tetapi perannya kian menyempit karena denyut perdagangan yang beragam telah berpindah ke daratan.

Pasar Sekanak seolah berdiri di antara dua masa sebagai warisan sejarah perdagangan sungai, dan sebagai ruang ekonomi yang berjuang mempertahankan eksistensi di tengah perubahan zaman.

Penulis: Jimas Muamar

Editor: Nabilla Kartika Wiranti

About Post Author

Jimas Muamar

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Honda Beat Kerap Jadi Sasaran Empuk Curanmor, Ini Faktor Penyebab hingga Upaya Pencegahannya
Next post 44 Hari Bersama Masyarakat, Mahasiswa KKN ke-84 UIN RF Akhiri Masa Pengabdian