
Palembang – Ukhuwahnews | Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumsel membuka wadah diskusi dengan tema ‘Pembegalam’ terkait bencana ekstrem yang melanda Sumatra akhir November 2025, di Taman Publik POM IX TVRI Palembang pada Jumat (30/01/2026).
Selaku Pemandu Diskusi, Pardesela menyampaikan bahwa masyarakat masih banyak yang kurang memahami perihal dampak bahaya dari alihfungsi suatu lahan menjadi lahan yang ditanami varietas monokultur.
“Masyarakat tidak mengerti bahwasanya hutan tempat resapan sudah tidak bagus lagi, sungai juga sudah banyak yang rusak. Saat ini manusia marak memodifikasi alam,” ucapnya ketika sesi diskusi.
Lebih lanjut, Pardesela menceritakan pengalamannya saat dirinya turut hadir ke lokasi bencana di Kecamatan Tukka Sumatra Utara, masyarakat di sana kebanyakan kurang peka dalam membaca tanda-tanda datangnya bencana.
“Mereka tidak paham berjalannya ekologi. Siklus musim hujan, dan derasnya air yang mengalir dari dataran tinggi, yang mana di balik gunung sudah menjadi lahan sawit,” ungkapnya.
Pardes menjabarkan selama ini masyarakat disuguhi pergeseran pemahaman oleh pemerintah mengenai hutan, terlebih lagi isi hutannya adalah tanaman sejenis. Padahal, isi hutan sangatlah beragam.
“Dari kita kecil lahan sawit selalu disebut dengan konotasi ‘hutan’, yang mana artian hutan ialah harus dilindungi. Jadinya tertanam pemikiran seolah-olah sawit yang masif ini mesti dijaga ketat,” katanya.
Kemudian ia mengutip pembahasan dari salah satu buku cerita rakyat yang dibacanya, berisikan penjelasan dampak serius akibat terjadinya bencana alam yang sering dihilangkan.
“Biasanya yang diupayakan hanya pengembalian material, berupa tempat tinggal. Tapi pengembalian ekologis dan psikokultural kerap dikesampingkan. Lalu nilai-nilai historis yang ada di tempat itu juga ikut luntur,” tuturnya.
Senada dengan itu, Pegiat Lingkungan, Ahmad Muhaimin menyatakan sepakat atas pernyataan Pardesela. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah menangani bencana dengan sungguh-sungguh.
“Memang butuh upaya yang keras, tidak hanya membangun tetapi memperbaiki kondisi restorasi iklim. Kalau sekadar membenahi hal-hal yang berkaitan dengan struktur, masalah belum tentu selesai,” jelasnya.
Di akhir, Muhaimin juga mengatakan bahwa sepatutnya pemerintah memiliki keputusan yang tepat mengenai solusi untuk pasca bencana melalui keputusan politik.
“Istilah pencegahan seperti itu memang kedengarannya masih awam di telinga masyarakat, dan mestinya yang lebih berkompeten di bidang itu ialah pemerintah. Segalanya hasil kompromi pemegang kekuasaan,” tutupnya.
Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas di Palembang. Diskusi di mulai sejak pukul 16:30 dan selesai pada pukul 17:50. Selain diskusi, disediakan juga lapak baca.
Reporter: Selo Obrian
Editor: Nabilla Kartika Wiranti
About Post Author
Selo Obrian
More Stories
Menelisik Cerita Animisme Runtuh di Desa Sedupi
[caption id="attachment_5105" align="aligncenter" width="1074"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Kentalnya unsur animisme tak bisa disangkal sangat kuat terutama di Nusantara, karena...
YIM Sumsel Dorong Literasi Jurnalis Untuk Perangi HIV, TB dan NAPZA di Palembang
[caption id="attachment_4997" align="aligncenter" width="1619"] Penyampaian materi oleh Nila erina pada acara Program Community Strengthening system-Human Right di Azza Hotel Kota...
FJPI Sumsel Gelar Workshop KBGO: Perempuan Masih Rentan Jadi Target Kekerasan Digital
[caption id="attachment_4914" align="aligncenter" width="2560"] Suasana Workshop Isu Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang menghadirkan Jasmine Floretta sebagai narasumber dari Media...
Kolaborasi JPPR dan Kesbangpol Tingkatkan Kualitas dan Partisipasi Pemilih Palembang
[caption id="attachment_4898" align="aligncenter" width="1280"] Kepala bidang (Kabid) Politik Dalam Negeri (Poldagri) Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) kota Palembang, Farid Wajidi...
Langkah Awal untuk Bumi lebih Bersih dan Hijau
[caption id="attachment_4886" align="aligncenter" width="2560"] Foto bersama murid SMP Widya Bhakti yang antusiasme dalam kegiatan bertema lingkungan di Lorong Yakin, RT...
Sedupi Menangis di Balik Tarian: Siapa yang Akan Menari Setelah Kami?
[caption id="attachment_4883" align="aligncenter" width="1600"] Tiga Maestro penari Tari Si Burung Putih dan kain songket khas Palembang. Minggu, (16/112025) Ukhuwahfoto/Jimas Muamar[/caption]...

Average Rating