Read Time:2 Minute, 5 Second
Potret Pemandu Diskusi, Pardesela (kiri) dan Pegiat Lingkungan, Ahmad Muhaimin (kanan) dalam diskusi Kuliah Jalanan, di Taman Publik POM IX TVRI Palembang pada Jumat (30/01/2026). Ukhuwahfoto/Selo Obrian

Palembang – Ukhuwahnews | Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumsel membuka wadah diskusi dengan tema ‘Pembegalam’ terkait bencana ekstrem yang melanda Sumatra akhir November 2025, di Taman Publik POM IX TVRI Palembang pada Jumat (30/01/2026).

Selaku Pemandu Diskusi, Pardesela menyampaikan bahwa masyarakat masih banyak yang kurang memahami perihal dampak bahaya dari alihfungsi suatu lahan menjadi lahan yang ditanami varietas monokultur.

“Masyarakat tidak mengerti bahwasanya hutan tempat resapan sudah tidak bagus lagi, sungai juga sudah banyak yang rusak. Saat ini manusia marak memodifikasi alam,” ucapnya ketika sesi diskusi.

Lebih lanjut, Pardesela menceritakan pengalamannya saat dirinya turut hadir ke lokasi bencana di Kecamatan Tukka Sumatra Utara, masyarakat di sana kebanyakan kurang peka dalam membaca tanda-tanda datangnya bencana.

“Mereka tidak paham berjalannya ekologi. Siklus musim hujan, dan derasnya air yang mengalir dari dataran tinggi, yang mana di balik gunung sudah menjadi lahan sawit,” ungkapnya.

Pardes menjabarkan selama ini masyarakat disuguhi pergeseran pemahaman oleh pemerintah mengenai hutan, terlebih lagi isi hutannya adalah tanaman sejenis. Padahal, isi hutan sangatlah beragam.

“Dari kita kecil lahan sawit selalu disebut dengan konotasi ‘hutan’, yang mana artian hutan ialah harus dilindungi. Jadinya tertanam pemikiran seolah-olah sawit yang masif ini mesti dijaga ketat,” katanya.

Kemudian ia mengutip pembahasan dari salah satu buku cerita rakyat yang dibacanya, berisikan penjelasan dampak serius akibat terjadinya bencana alam yang sering dihilangkan.

“Biasanya yang diupayakan hanya pengembalian material, berupa tempat tinggal. Tapi pengembalian ekologis dan psikokultural kerap dikesampingkan. Lalu nilai-nilai historis yang ada di tempat itu juga ikut luntur,” tuturnya.

Senada dengan itu, Pegiat Lingkungan, Ahmad Muhaimin menyatakan sepakat atas pernyataan Pardesela. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah menangani bencana dengan sungguh-sungguh.

“Memang butuh upaya yang keras, tidak hanya membangun tetapi memperbaiki kondisi restorasi iklim. Kalau sekadar membenahi hal-hal yang berkaitan dengan struktur, masalah belum tentu selesai,” jelasnya.

Di akhir, Muhaimin juga mengatakan bahwa sepatutnya pemerintah memiliki keputusan yang tepat mengenai solusi untuk pasca bencana melalui keputusan politik.

“Istilah pencegahan seperti itu memang kedengarannya masih awam di telinga masyarakat, dan mestinya yang lebih berkompeten di bidang itu ialah  pemerintah. Segalanya hasil kompromi pemegang kekuasaan,” tutupnya.

Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas di Palembang. Diskusi di mulai sejak pukul 16:30 dan selesai pada pukul 17:50. Selain diskusi, disediakan juga lapak baca.

Reporter: Selo Obrian

Editor: Nabilla Kartika Wiranti

About Post Author

Selo Obrian

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Budaya Begadang Mahasiswa: Prestasi dan Kesehatan Jadi Taruhan