Read Time:2 Minute, 10 Second
Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi

Kentalnya unsur animisme tak bisa disangkal sangat kuat terutama di Nusantara, karena itu sekarang kita banyak mengenal beragam upacara atau ritual yang hanya dilaksanakan pada negara Indonesia saja.

Hal itu diakibatkan saat masa penyebaran agama, banyak pedakwah mengadaptasi ritual dari unsur animisme ke dalam dakwahnya agar mudah diterima bagi masyarakat.

Animisme sendiri ternyata punya beragam bentuk, namun sebagai kepercayaan Menurut Jurnal Masyarakat dan Budaya berjudul “Kepercayaan Animisme dan Dinamisme Dalam Masyarakat Muslim Nusa Tenggara Timur”, memuat bahwa segala wujud keyakinan terhadap roh, biasanya masyarakat melakukan ritual untuk menyembah roh agar tercegah dari musibah tak terduga.

Unsur animisme juga menyebar luas di daerah Sumatrera Selatan, salah satunya adalah kepercayaan pada arwah leluhur atau sering disebut puyang, karena dianggap sakral dan punya kekuatan magis yang dapat memberi perlindungan dari beragam bentuk marak bahaya.

Kepercayaan terhadap puyang cukup melekat, pada Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tepatnya di Desa Sedupi yang berada di Kecamatan Tanah Abang, berdasarkan cerita, terdapat sembilan puyang, namun kini hanya tiga saja masih diingat oleh masyarakat Desa Sedupi.

Dari adanya kepercayaan inilah, mulai banyak muncul berbagai upacara atau ritual penghormatan terhadap puyang, seperti masyarakat yang berkunjung sekaligus berdoa ke makam puyang untuk meminta restu maupun memohon keselamatan dalam menjalani hidup.

Salah satu tetua Desa Sedupi, Cik Namin mengungkapkan beragam ritual animisme terhadap makam puyang, yang sering dilakukan masyarakat pada jaman dahulu.

“Dulu ada pasangan yang mau nikah, minta restunya bukan ke orang tua malahan ke makam puyang, selain itu, ada juga ritual persaingan pria merebutkan wanita, lalu wanita diperebutkan itu dipajang di atas tiang bagai piala pemenang,” ungkap Cik Namin.

Cik Namin menceritakan, dengan mulai menyebarnya ajaran agama lalu tokoh pendakwah tersebut, akhirnya berusaha untuk menghilangkan kepercayaan animisme dianggap menyalahkan etika dan adab manusia.

“Kami sebagai orang paham agama, akhirnya menegur langsung masyarakat yang masih menerapkan ritual animisme, lalu memberi tahu bahwa perbuatan yang dilakukannya itu salah bahkan merugikan,” ceritanya.

Selain menegur secara langsung, ada juga berbagai tindakan dilakukan untuk menghilangkan dengan perlahan kebiasaan animisme oleh masyarakat Desa Sedupi.

“Ada pula kami mengadakan pengajian, membuka tempat belajar mengaji, dan berkegiatan tilawah, yang pasti seluruh kegiatan ini diharapkan bisa menggantikan hingga menghilangkan kebiasaan animisme yang telah lama berlangsung selama ini,” ujarnya.

Pada akhirnya, Cik Namin menjelaskan bahwa kebiasaan animisme ini dapat sepenuhnya menghilang dan digantikan dengan keyakinan pada ajaran agama.

“Dulu jaman saya masih kecil kebiasaan animisme ini masih sedikit dilakukan, tapi akhirnya dengan berjalannya waktu pelan-pelan akhirnya kepercayaan ini mulai hilang dan warga Desa Sedupi seluruhnya menyakini adanya ajaran agama,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Hafidz Qudrawi
Editor: Vivin Noor Azizah

About Post Author

Vivin Noor Azizah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post UKMK Teater Gelar Petra 2025: Perayaan Hari Lahir Sekaligus Rangkaian Pelantikan Anggota Baru
Next post Masakan Melayu di Era Digital: Antara Tradisi dan Perubahan Zaman