
Penulis: Manda Dwi Lestari (Redaktur Online LPM Ukhuwah)
Opini – Ukhuwahnews | Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day bermula lebih dari 300.000 pekerja melakukan aksi tuntunan delapan jam kerja di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Di Indonesia, melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013 peringatan ini ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Hari Buruh seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Dahulu buruh identik dengan pekerja pabrik, namun melihat keadaan sekarang orang-orang yang datang dari bangku pendidikan tinggi pun menjadi tenaga kerja buruh, seperti ojek online (Ojol).
Negara Indonesia mendorong agar perguruan tinggi mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang semakin terus berubah. Padahal, pendidikan tidak sekadar menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan industri sekarang. Semestinya para pendidik dan yang terdidik sadar bahwa pendidikan mampu memperluas kesejahteraan hidup.
Pemerintah Berencana Mengembangkan Program Studi yang Dianggap Tak Relevan
Pada April 2026 ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak berfokus pada penutupan program studi, melainkan dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Secara konseptual, arah ini terlihat progresif bahwa pendidikan perguruan tinggi tidak lagi statis. Kampus dituntut untuk menyesuaikan kurikulum secara berkala, update setiap dua sampai empat tahun agar lulusan yang dihasilkan mampu masuk ke dunia kerja yang terus berevolusi, jauh dari persoalan ketertinggalan oleh perkembangan industri global.
Namun di balik upaya adaptif tersebut, ketika pendidikan semakin diarahkan jalannya untuk mengikuti kebutuhan industri, apakah orientasinya masih pada pembentukan manusia yang seutuhnya, atau justru semakin kuat sebagai penyediaan tenaga kerja buruh?
Transisi Lulusan ke Dunia Kerja
Berdasarkan data per tahun 2025-2026, fenomena lulusan dari perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasi atau terpaksa bekerja di sektor informal, termasuk tenaga kerja buruh menjadi persoalan krusial di Indonesia, karena banyaknya lulusan dari pendidikan tinggi tidak seimbang dengan minimnya lapangan pekerjaan industri.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa meskipun kurikulum terus diperbarui, dunia kerja tidak selalu menawarkan kepastian jaminan upah yang layak dengan jam kerja yang manusiawi. Banyak lulusan tetap menghadapi pekerjaan yang tidak stabil, kontrak jangka pendek, hingga tekanan produktivitas yang tinggi.
Adapun mereka yang bekerja di balik layar, di kantor, di industri kreatif, di ruang digital namun tetap menghadapi ketidakpastian yang sama, dengan upah yang tak sepadan dibandingkan hasil kerja otak, tenaga kerja yang terkuras dan jam kerja yang padat. Relevansi pendidikan dengan industri memang meningkat, tetapi belum tentu diiringi dengan peningkatan kesejahteraan lulusannya.
Kondisi Empiris Tenaga Kerja Terdidik
Di sinilah, pendidikan didorong untuk semakin sesuai kebutuhan pasar, tetapi pasar itu sendiri belum tentu menjamin keadilan bagi tenaga kerja. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan justru berpotensi masuk ke dalam sistem kerja yang fleksibel namun rentan.
Kondisi ini menggambarkan bahwa hubungan antara pendidikan dan dunia kerja tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada proses yang saling terhubung, tetapi juga menyisakan persoalan yang sama. Pendidikan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan industri, kenyataannya kini pendidikan masih dalam persoalan yang belum terselesaikan.
Dengan demikian, penting untuk membaca ulang dua momentum peringatan dari Hari Buruh dan Hari Pendidikan. Keduanya, ada pada kenyataan yang berada dalam satu garis yang sama, Hari Buruh menjadi pengingat bahwa perjuangan juga milik masa sekarang, termasuk bagi mereka yang hadir dari bangku pendidikan dengan harapan besar, namun dihadapkan pada realitas yang berbeda.
Editor: Nabilla Kartika Wiranti
About Post Author
Manda Dwi Lestari
More Stories
Lebaran, Tradisi, dan Bayang-Bayang Ketimpangan Gender di Indonesia
[caption id="attachment_5729" align="aligncenter" width="2560"] UkhuwahDesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Opini–Ukhuwahnews| Indonesia merupakan negara dengan letak geografis yang strategis sebagai jalur perdagangan internasional....
Julukan Indonesia Di Mata Dunia: Negara Nyiur Hingga Heaven of Earth
[caption id="attachment_5694" align="alignleft" width="2560"] UkhuwahDesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita LPM Ukhuwah) Opini – Ukhuwahnews | Zamrud Khatulistiwa disematkan...
Bahasa Politik: Aparat Arogan Disebut Oknum
[caption id="attachment_5644" align="alignnone" width="1080"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Nabilla Kartika Wiranti (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Kalian pernah...
Dakwah Lebih Dekat: Digitalisasi Membuka Akses Tanpa Batas
[caption id="attachment_5031" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Lupi Wahyuni (Anggota Magang LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Dalam era digitalisasi yang...
Arbitrase dan Bayang-bayang Privatisasi keadilan
[caption id="attachment_4745" align="aligncenter" width="640"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Mohammad Shabir Al-fikri (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Sejak era 1980-an Indonesia mulai mengalami...
Eksklusivitas Pendidikan Tinggi di Indonesia
[caption id="attachment_4688" align="aligncenter" width="2560"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Oleh: Ahmad Hafiizh Kudrawi Pendidikan adalah kunci pembebasan bagi individu dan bangsa...

Average Rating