
Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita LPM Ukhuwah)
Opini – Ukhuwahnews | Zamrud Khatulistiwa disematkan kepada Indonesia karena letak geografis yang dilintasi garis khatulistiwa dengan penampakan alam berwarna hijau seperti zamrud. Julukan ini memotret Indonesia sebagai negeri hijau nan subur.
Namun realitasnya, deforestasi, tambang nikel, ekspansi sawit, dan proyek strategis nasional justru menggerus ’hijau’ tersebut. Dilansir dari inilah.com dalam buku Indonesia Poenja Tjerita oleh Sejarah RI (2016), istilah ’zamrud’ kini terasa paradoksal.
Kita menjual keindahan alam, tetapi pada saat yang sama mengeksploitasinya demi pertumbuhan ekonomi. Indonesia belum berhasil menyeimbangkan ambisi ekonomi dengan etika ekologis. Jika hutan terus menyusut, julukan ini berubah menjadi nostalgia bukan fakta.
Negara Seribu Pulau
Dilansir dari cnnindonesia.com., dari laman resmi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Indonesia memiliki 17.504 pulau yang mencatat secara resmi, sehingga dijuluki Negara Seribu Pulau.
Adapun dilansir dari data.goodstats.id, Provinsi dengan jumlah pulau terbanyak Tahun 2024, seperti Papua Barat Daya (3,022 pulau), Kepulauan Riau (2.028 pulau), dan Sulawesi Tengah (1.572 pulau).
Secara geografis Indonesia memang kaya pulau. Namun dalam praktik, pulau-pulau kecil justru menjadi simbol ketimpangan pembangunan. Daerah terluar sering kekurangan infrastruktur, layanan kesehatan, dan pendidikan.
Negara hadir kuat di pusat, lemah di pinggiran. Julukan ini memperlihatkan ironi, kita bangga dengan jumlah pulau, tetapi belum mampu mengelola dan menyejahterakan semuanya secara merata.
Surga Dunia (Heaven if Earth)
Indonesia adalah negara yang terkenal dengan keindahan alam dan destinasi wisata, diantaranya pantai, hutan, pegunungan, sungai, dll. Tahun 2022, Indonesia dinobatkan sebagai negara terindah di dunia mengalahkan Selandia Baru dan Kolombia.
Dilansir dari inilah.com seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, Indonesia dinobatkan sebagai negara terindah, namun surga ini sering hanya dinikmati wisatawan dan investor.
Overtourism merusak ekosistem, harga tanah melonjak, masyarakat lokal terpinggirkan dari ruang hidupnya sendiri. Jika surga hanya menghasilkan keuntungan ekonomi tanpa keadilan sosial, maka julukan ini lebih cocok disebut ‘surga industri pariwisata’, bukan surga rakyatnya.
Paru-Paru Dunia
Diberikan sebagai bentuk perhatian terhadap kelestarian hutan Indonesia, terutama kawasan hutan hujan tropis yang luas. Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai negara dengan hutan hujan tropis terluas di dunia.
Dilansir dari cnnindonesia.com., Indonesia disebut paru-paru dunia karena hutan tropisnya yang luas. Namun kebakaran hutan dan pembukaan lahan skala besar membuat dunia mempertanyakan komitmen lingkungan Indonesia.
Indonesia sering berada dalam posisi defensif di forum internasional soal emisi karbon. Julukan ini berubah menjadi beban diplomatik. Dunia menuntut konservasi, sementara dalam negeri masih kompromi terhadap eksploitasi.
Baca Juga: Bahasa Politik: Aparat Arogan Disebut Oknum
Negara Seribu Candi
Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah berupa candi dari masa kejayaan Hindu-Buddha. Lebih dari 1.000 candi tersebar dari Sabang sampai Marauke, salah satunya Candi Borobudur yang di akui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan dunia.
Namun pelestarian candi kerap berbenturan dengan kepentingan wisata massal dan event komersial. Warisan sejarah sering lebih diposisikan sebagai komoditas ekonomi ketimbang ruang refleksi peradaban. Kita bangga punya sejarah besar, tetapi belum tentu memahaminya secara kritis.
Macan Asia
Indonesia pernah mendapatkan julukan Macan Asia. Dilansir dari inilah.com, dalam buku Dampak Otonomi Daerah di Indonesia, Indonesia sebagai kekuatan raksasa otonomi di Asia pada masa pemerintahan Orde Baru.
Indonesia pernah diproyeksikan sebagai kekuatan besar Asia pada masa Orde Baru. Namun jika dibandingkan dengan Korea Selatan atau Singapura yang benar-benar dijuluki ‘Asian Tigers‘, Indonesia belum mencapai lompatan industri dan teknologi yang signifikan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil, tetapi belum transformatif. Kita besar secara populasi dan sumber daya, tetapi belum dominan dalam inovasi global.
Balinesia
Meskipun tidak resmi, julukan ini diberikan oleh wisatawan macanegara yang berkunjung ke Bali. Merujuk pada Pulau Bali yang menjadi ikon parawisata Indonesia dan seringkali dianggap sebagai representasi Indonesia di mata dunia.
Julukan ini lahir karena dominasi citra Pulau Bali dalam branding Indonesia. Masalahnya, Indonesia bukan hanya Bali, ketergantungan citra pada satu daerah menunjukkan kegagalan narasi nasional dalam mempromosikan keberagaman.
Identitas Indonesia direduksi menjadi eksotisme Bali. Ini menciptakan ketimpangan promosi dan ekonomi antarwilayah.
Negara Maritim
Berdasarkan data yang diperoleh dari United Nation Convention on the Law of the Sea (UNICLOS) 1982, mengacu pada wilayah perairan Indonesia yang luas dan lebih dari daratannya. Total luas laut Indonesia adalah 5,8 juta km dengan 3,2 juta km perairan teritorial dan 2,7 km perairan Zona Ekonomi Ekslusif.
Luas laut Indonesia sangat besar dan strategis. Namun praktik illegal fishing, konflik wilayah laut, dan lemahnya industri maritim menunjukkan bahwa potensi belum sepenuhnya dikelola optimal.
Indonesia mengklaim sebagai negara maritim, tetapi orientasi kebijakan masih sering berpusat pada daratan. Visi poros maritim dunia belum sepenuhnya terwujud secara struktural.
Editor: Manda Dwi Lestari
About Post Author
Jimas Muamar
More Stories
Bahasa Politik: Aparat Arogan Disebut Oknum
[caption id="attachment_5644" align="alignnone" width="1080"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Nabilla Kartika Wiranti (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Kalian pernah...
Dakwah Lebih Dekat: Digitalisasi Membuka Akses Tanpa Batas
[caption id="attachment_5031" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Lupi Wahyuni (Anggota Magang LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Dalam era digitalisasi yang...
Arbitrase dan Bayang-bayang Privatisasi keadilan
[caption id="attachment_4745" align="aligncenter" width="640"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Mohammad Shabir Al-fikri (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Sejak era 1980-an Indonesia mulai mengalami...
Eksklusivitas Pendidikan Tinggi di Indonesia
[caption id="attachment_4688" align="aligncenter" width="2560"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Oleh: Ahmad Hafiizh Kudrawi Pendidikan adalah kunci pembebasan bagi individu dan bangsa...
Pers Sebagai Pilar Keempat Apa Pentingnya Itu?
[caption id="attachment_4632" align="aligncenter" width="960"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Oktavia Rhamadhona (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Dalam negara yang menganut asas demokrasi, kekuasaan...
Green Paradoks
[caption id="attachment_4559" align="aligncenter" width="1922"] Ukhuwahdesain/Mohamad Shabir Al-Fikri[/caption] Penulis: Mohamad Shabir Al-Fikri Opini-Ukhuwahnews | Pemanasan global saat ini masih dianggap sebagai...

Average Rating