
Opini–Ukhuwahnews| Indonesia merupakan negara dengan letak geografis yang strategis sebagai jalur perdagangan internasional. Posisi ini memungkinkan terjadinya interaksi antarbudaya yang intens selama berabad-abad, sehingga membentuk masyarakat dengan keberagaman agama. Masuknya Hindu-Buddha dari India, Islam dari Arab, Konghucu dari Tiongkok, serta Kristen-Katolik dari Eropa menjadi bagian dari proses panjang pembentukan identitas bangsa.
Keberagaman tersebut tidak hadir secara terpisah, melainkan melalui proses akulturasi dengan budaya lokal. Nilai-nilai yang berkembang kemudian diakui dalam Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945 sebagai dasar kehidupan beragama di Indonesia. Dalam konteks ini, Islam menjadi salah satu agama yang berkembang pesat melalui pendekatan damai yang dilakukan oleh para ulama, khususnya Walisongo.
Pendekatan kultural yang digunakan Walisongo membuat ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat. Islam tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga berbaur dalam kehidupan sosial dan budaya. Pengaruhnya terlihat dalam berbagai aspek, mulai dari tradisi, arsitektur, hingga perayaan hari besar keagamaan.
Baca Juga: Kemudahan AI, Ancaman bagi Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi
Salah satu wujud akulturasi tersebut adalah perayaan Idul Fitri atau Lebaran. Istilah “lebaran” sendiri berasal dari bahasa Jawa atau Betawi yang berarti selesai atau usai, merujuk pada berakhirnya bulan Ramadhan. Penggunaan istilah ini menjadi strategi dakwah kultural yang memudahkan masyarakat memahami ajaran Islam.
Tradisi Lebaran di Indonesia juga sarat makna simbolik. Ketupat, misalnya yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, menjadi simbol permohonan maaf dan kesucian diri. Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dipadukan dengan budaya lokal sehingga menghasilkan praktik keagamaan yang khas Nusantara.
Selain sebagai momentum spiritual, Lebaran juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Tradisi mudik menjadi salah satu fenomena sosial yang mendorong redistribusi pendapatan dari kota ke desa. Perputaran uang yang besar selama periode ini turut menggerakkan ekonomi domestik secara luas.
Ketimpangan yang Terselubung
Namun, di balik kemeriahan Lebaran, terdapat realitas yang sering luput dari perhatian, yaitu ketimpangan gender dalam ruang domestik. Menjelang hari raya, perempuan kerap dibebani berbagai pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, membersihkan rumah, hingga melayani tamu. Sementara itu, laki-laki cenderung lebih banyak beraktivitas di luar rumah.
Beban domestik yang menumpuk sejak akhir Ramadhan seringkali menyebabkan perempuan mengalami kelelahan fisik dan mental. Ironisnya, kondisi ini kerap dianggap sebagai hal yang wajar dan bagian dari kodrat perempuan, sehingga jarang dipersoalkan sebagai bentuk ketidakadilan.
Relevansi dengan Islam
Padahal, jika merujuk pada ajaran Islam, praktik tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan teladan Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Aisyah RA, Nabi diketahui turut membantu pekerjaan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kesalingan dan kerja sama dalam kehidupan keluarga.
Prinsip mubadalah dalam Islam juga menegaskan pentingnya kesetaraan dan relasi yang adil antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks Lebaran, makna kebersamaan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai berkumpul, tetapi juga berbagi tanggung jawab dalam persiapan dan pelaksanaan perayaan.
Menitih Langkah Kecil Menuju Perubahan
Perubahan menuju keadilan gender sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Laki-laki dapat turut membantu memasak atau membersihkan rumah, sementara keputusan praktis seperti memesan makanan juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi beban kerja domestik.
Dengan demikian, Idul Fitri seharusnya menjadi momentum kembali ke fitrah, yaitu kondisi manusia yang bersih, setara, dan saling menghargai. Tradisi Lebaran tidak perlu dihapus, tetapi dapat disempurnakan agar lebih selaras dengan nilai keadilan dalam Islam, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga secara adil.
Penulis: Mohamad Shabir Al Fikri
Editor: Jimas Muamar
About Post Author
Mohamad Shabir Al Fikri
More Stories
Julukan Indonesia Di Mata Dunia: Negara Nyiur Hingga Heaven of Earth
[caption id="attachment_5694" align="alignleft" width="2560"] UkhuwahDesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita LPM Ukhuwah) Opini – Ukhuwahnews | Zamrud Khatulistiwa disematkan...
Bahasa Politik: Aparat Arogan Disebut Oknum
[caption id="attachment_5644" align="alignnone" width="1080"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Nabilla Kartika Wiranti (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Kalian pernah...
Dakwah Lebih Dekat: Digitalisasi Membuka Akses Tanpa Batas
[caption id="attachment_5031" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Lupi Wahyuni (Anggota Magang LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Dalam era digitalisasi yang...
Arbitrase dan Bayang-bayang Privatisasi keadilan
[caption id="attachment_4745" align="aligncenter" width="640"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Mohammad Shabir Al-fikri (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Sejak era 1980-an Indonesia mulai mengalami...
Eksklusivitas Pendidikan Tinggi di Indonesia
[caption id="attachment_4688" align="aligncenter" width="2560"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Oleh: Ahmad Hafiizh Kudrawi Pendidikan adalah kunci pembebasan bagi individu dan bangsa...
Pers Sebagai Pilar Keempat Apa Pentingnya Itu?
[caption id="attachment_4632" align="aligncenter" width="960"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Oktavia Rhamadhona (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Dalam negara yang menganut asas demokrasi, kekuasaan...

Average Rating