Read Time:1 Minute, 54 Second
Sumber/Pixabay

Artikel – Ukhuwahnews | Masakan tidak pernah berdiri sendiri dalam kebudayaan Melayu. Ia hadir sebagai bagian dari adat, mengiringi berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari kenduri, pernikahan, hingga perayaan keagamaan.

Antropolog Koentjaraningrat mengatakan makanan sebagai unsur kebudayaan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga mengandung nilai sosial dan simbolik dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi).

Dalam tradisi Melayu, proses memasak makanan adat dilakukan secara bersama-sama. Aktivitas ini menjadi ruang interaksi sosial sekaligus sarana pewarisan nilai adat. Menurut Edi Sedyawati dalam bukunya Budaya Indonesia, praktik kebudayaan seperti memasak tradisional berfungsi menjaga kesinambungan identitas budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga: Busana Melayu di Era Digital Alami Perubahan, Antara Nilai Islam dan Tantangan Globalisasi

Namun, perkembangan teknologi dan masuknya era digital membawa perubahan pada praktik tersebut. Peralatan dapur modern, bumbu instan, serta layanan katering kini banyak menggantikan proses memasak kolektif yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat Melayu. Proses memasak menjadi lebih praktis, tetapi nilai kebersamaan perlahan memudar.

Perubahan juga terlihat pada cara pengetahuan kuliner diwariskan. Jika sebelumnya resep masakan adat disampaikan secara lisan, kini masyarakat terutama generasi muda lebih banyak belajar melalui media sosial dan platform digital.

Namun Pratiwi (2019) mencatat bahwa digitalisasi kuliner tradisional memudahkan akses pengetahuan budaya, tetapi sering kali hanya menampilkan aspek teknis tanpa menjelaskan makna adat di baliknya.

Di sisi berbeda, masakan adat Melayu juga mengalami komodifikasi. Media sosial menjadikan kuliner tradisional sebagai konten visual yang menarik dan bernilai ekonomi. Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan menilai bahwa budaya populer dan media digital cenderung mengubah tradisi menjadi produk konsumsi, di mana nilai estetika dan pasar sering lebih diutamakan dibandingkan nilai budaya.

Meski demikian, era digital tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Wahyudi (2021) menegaskan bahwa teknologi digital juga membuka peluang pelestarian budaya melalui dokumentasi resep, cerita kuliner, dan sejarah makanan tradisional. Dengan cara ini, masakan adat Melayu tetap dapat dikenal dan diwariskan, meskipun dalam bentuk yang lebih adaptif.

Masakan Melayu di era digital akhirnya berada pada persimpangan antara tradisi dan modernitas. Tantangan utamanya bukan menolak perubahan, melainkan menjaga agar nilai adat dan identitas budaya tetap melekat di tengah arus digitalisasi. Selama makna dan filosofi masakan tetap dipahami, tradisi kuliner Melayu akan terus hidup, meski zaman terus berubah.

Penulis: Tia Apriyani
Editor: Vivin Noor Azizah

About Post Author

Vivin Noor Azizah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Menelisik Cerita Animisme Runtuh di Desa Sedupi
Next post Pernikahan Adat Melayu di Era Digital: Pelestarian Nilai Tradisional melalui Media Modern