Read Time:1 Minute, 34 Second
Ukhuwahdesain/Vivin Noor Azizah

Artikel – Ukhuwahnews | Busana Melayu merupakan elemen krusial dari identitas budaya yang mencerminkan nilai-nilai adat dan ajaran Islam. Dalam masyarakat Melayu, pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga berperan sebagai simbol kemuliaan dan martabat sosial.

Menurut Koentjaraningrat (2009), pakaian tradisional adalah unsur budaya yang menyimpan nilai, norma, dan identitas kolektif. Prinsip adat “bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, menegaskan bahwa busana Melayu harus harmonis dengan ajaran Islam.

Kemajuan teknologi digital dan media sosial membawa pergeseran dalam cara masyarakat Melayu berpakaian, budaya populer global yang disebarluaskan melalui ruang digital mengubah selera berpakaian lokal, termasuk dalam busana adat Melayu.

Busana tradisional Melayu seperti baju kurung dan teluk belanga, dianggap telah sesuai dengan prinsip Islam karena desainnya yang longgar dan sederhana. Namun, Abdullah (2011) berpendapat bahwa modernisasi seringkali menjadikan busana Melayu, lebih menonjolkan aspek estetika dibandingkan etika berpakaian.

Dari perspektif budaya Melayu, busana memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan kesopanan dan keteraturan sosial, Menurut Koentjaraningrat (2009), motif, warna, dan model busana Melayu berfungsi sebagai penanda identitas serta status sosial pemiliknya.

Cultural hybridization (hibridisasi budaya) adalah konsep yang menjelaskan proses pencampuran, antara budaya lokal dengan budaya luar yang menghasilkan bentuk budaya baru. Proses ini tidak bersifat searah, melainkan terjadi melalui interaksi, negosiasi, dan penyesuaian antarbudaya.

Hibridisasi budaya muncul ketika masyarakat lokal tidak sepenuhnya menolak budaya global, tetapi juga tidak menerimanya secara utuh. Unsur budaya asing dikelola, diseleksi, dan dipadukan dengan nilai lokal sehingga menghasilkan praktik budaya yang baru dan unik.

Perubahan busana Melayu di era digital tidak dapat dihindari. Akan tetapi, perubahan tersebut perlu diarahkan untuk tetap mencerminkan nilai kesantunan, kesederhanaan, dan etika berpakaian Islami.

Akhirnya, perubahan busana Melayu di zaman kontemporer merupakan hasil dari globalisasi dan digitalisasi. Melalui pendekatan hibridisasi budaya yang berlandaskan Islam dan adat Melayu, busana Melayu dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas-nya.

Penulis: Vivin Noor Azizah

Editor: Ahmad Hafiizh Kudrawi

About Post Author

Ahmad Hafiizh Kudrawi

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post UKMK Teater Arafah Hadirkan pentas ekspresi lewat PETRA
Next post UKMK Teater Gelar Petra 2025: Perayaan Hari Lahir Sekaligus Rangkaian Pelantikan Anggota Baru