Read Time:1 Minute, 56 Second
Sepasang patung menggunakan pakaian pengantin tradisional khas adat melayu, Kamis(18/12/2025). Ukhuwahfoto/Andika

Artikel – Ukhuwahnews | Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk perubahan budaya yang selama ini dianggap sakral, seperti pernikahan adat Melayu. Hampir di berbagai daerah Melayu, pernikahan yang dahulu dijalankan melalui serangkaian ritual panjang kini mengalami penyesuaian signifikan.

Hal ini sejalan dengan temuan Penelitian Fajar, Firdiansyah, dan Amin Menyatakan bahwa digitalisasi berperan penting dalam pelestarian seloko dalam pernikahan adat Melayu. Kerena itu tradisi ini tetap relevan dan dapat diakses oleh generasi muda dikutip dari Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara.

Baca juga: Masakan Melayu di Era Digital: Antara Tradisi dan Perubahan Zaman

Selain Itu, dikutip dari Jurnal Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Penelitian Multidisiplin Terpadu, menegaskan dalam masyarakat melayu tradisi seperti berinai dan tepung tawar menjadi bagian penting pernikahan yang bukan hanya simbol seremonial, tetapi juga sarana mempererat hubungan kekerabatan dan sosial-budaya. Serta memberikan doa dan Restun bagi pengantin sementara menghadapi perubahan modernisasi.

Namun, perkembangan teknologi digital kini dimanfaatkan dalam pernikahan, seperti untuk undangan online, siaran langsung akad, dan dokumentasi sehingga keluarga dari jarak jauh tetap bisa ikut berpartisiasi, menurut Jurnal Komunikasi Agastyassa dan Salamah, mengatakan menggunakan teori cultural hybridization, hal ini menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap dipertahankan, tatapi cara pelaksanaannya mengikuti perkembangan media dan teknologi modern.

Transformasi ini mencerminkan bagaimana budaya dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai tradisional.

Busana pengantin Melayu mencerminkan hibridisasi budaya melalui perpaduan budaya tradisional, seperti songket dan tanjak, dengan desain modern dan riasan kontemporer. Dekorasi pelaminan yang memadukan motif adat dengan estetika minimalis menandai negosiasi identitas budaya generasi muda dalam menghadapi modernitas dan digitalisasi.

Nasaie Zainuddin Mengukapkan Fenomena ini sejalan dengan prinsip cultural hybridity, di mana tradisi diadaptasi dan direartikulasikan, agar tetap relevan secara sosial dan estetis. Sekaligus merespons dinamika estetika kontemporer di kutip dari jurnal International Journal of Art & Design (IJAD).

Menurut Burke & Stets (2009) dalam bukunya Identity Theory, menuliskan perubahan ini menuai kritik, penyederhanaan ritual berpotensi mengurangi kedalaman makna filosofisnya. Namun, adaptasi dipandang sebagai strategi penting untuk melestarikan tradisi agar tidak terlupakan.

Dengan demikian dalam masyarakat Melayu yang menjunjung nilai-nilai Islam, fenomena ini dari sudut pandang teori identitas mencerminkan terbentuknya identitas kolektif baru masyarakat yang tetap dan beradat, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

About Post Author

Ahmad Hafiizh Kudrawi

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Masakan Melayu di Era Digital: Antara Tradisi dan Perubahan Zaman
Next post UKMK MAPALA UIN RF Salurkan Donasi untuk Korban Banjir Sumatera Selatan