
Penulis: Sri Wahyuni (Pengurus LPM Ukhuwah)
Opini – Ukhuwahnews | Di tengah perubahan sistem pendidikan yang terus berkembang, peran orang tua terutama ibu menjadi semakin krusial dalam mendampingi proses belajar anak.
Kurikulum yang terus diperbarui, seperti Implementasi Kurikulum Merdeka di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah Ibtidaiyah (MI), menuntut adanya pemahaman yang tidak hanya dimiliki guru, tetapi juga wali murid.
Ironisnya, di banyak daerah pemahaman terhadap kurikulum masih dianggap sebagai ranah sekolah semata. Padahal pendidikan sejatinya adalah kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Di Desa Tanjung Medang, realitas ini terlihat jelas. Siswa sebanyak 120 orang di SD dan 65 orang di MI, sebagian besar wali murid masih belum memahami bagaimana sistem pembelajaran, pola penilaian, serta perubahan pendekatan belajar yang kini lebih menekankan pada penguatan karakter dan kompetensi.
Banyak ibu yang mengaku kebingungan saat membantu anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Beberapa di antaranya juga masih sulit membaca hasil belajar siswa. Tidak sedikit pula yang masih beranggapan bahwa keberhasilan pendidikan sepenuhnya berada di tangan guru.
Melihat permasalahan tersebut, saya sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) melaksanakan program “Peningkatan Pemahaman Ibu terhadap Kurikulum SD/MI” dalam rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan ke-84 di Desa Tanjung Medang.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 80 wali murid yang berkumpul di Balai Desa pada malam hari. Antusiasme para ibu menunjukkan bahwa sebenarnya ada kebutuhan besar untuk memahami dunia pendidikan anak, hanya saja belum tersedia ruang diskusi yang memadai.
Baca Juga: Dakwah Lebih Dekat: Digitalisasi Membuka Akses Tanpa Batas
Dalam kegiatan tersebut, dijelaskan mengenai struktur kurikulum SD/MI, perbedaan pendekatan pembelajaran dulu dan sekarang, cara membaca hasil belajar anak, strategi mendampingi anak belajar di rumah tanpa tekanan berlebihan, serta cara mengapresiasi dan mendukung anak sehingga ia merasa perjuangannya dihargai.
Lebih dari sekadar penyampaian materi, kegiatan ini menjadi ruang diskusi terbuka. Para ibu menyampaikan keresahan mereka, mulai dari kebingungan cara membagi waktu bekerja dan mendidik anak, hingga kekhawatiran terhadap penggunaan gawai yang kini begitu dekat dengan kehidupan anak sehari-hari.
Dari diskusi tersebut terlihat bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu berbicara tentang ekonomi atau keterampilan usaha semata. Pendidikan anak adalah bagian dari fondasi keluarga. Ketika seorang ibu memahami arah dan tujuan kurikulum, ia tidak hanya mendampingi anak belajar, tetapi juga membangun fondasi masa depan keluarga.
Tema KKN tahun ini, yaitu “Pemberdayaan Kaum Perempuan dalam Memperkuat Perekonomian Keluarga,” memiliki makna yang sangat luas. Perekonomian keluarga tidak hanya ditopang oleh penghasilan semata, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia di dalamnya.
Anak-anak yang tumbuh dengan pendampingan pendidikan yang baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di masa depan, salah satunya juga dalam perekonomian.
Kurikulum bukan sekadar dokumen akademik, melainkan panduan pembentukan karakter generasi. Ketika ibu melek kurikulum, maka pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut di ruang keluarga hingga masyarakat.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga harus terus diperkuat. Perubahan pendidikan tidak akan berhasil tanpa keterlibatan orang tua sebagai fondasi dasar.
Membangun generasi yang unggul tidak cukup dengan kebijakan pendidikan yang baik. Pastinya diperlukan juga kesadaran bersama, terutama dari perempuan, sebagai ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anaknya.
Editor: Manda Dwi Lestari
About Post Author
Nabilla Kartika Wiranti
More Stories
Dakwah Lebih Dekat: Digitalisasi Membuka Akses Tanpa Batas
[caption id="attachment_5031" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Lupi Wahyuni (Anggota Magang LPM Ukhuwah) Opini - Ukhuwahnews | Dalam era digitalisasi yang...
Arbitrase dan Bayang-bayang Privatisasi keadilan
[caption id="attachment_4745" align="aligncenter" width="640"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Mohammad Shabir Al-fikri (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Sejak era 1980-an Indonesia mulai mengalami...
Eksklusivitas Pendidikan Tinggi di Indonesia
[caption id="attachment_4688" align="aligncenter" width="2560"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Oleh: Ahmad Hafiizh Kudrawi Pendidikan adalah kunci pembebasan bagi individu dan bangsa...
Pers Sebagai Pilar Keempat Apa Pentingnya Itu?
[caption id="attachment_4632" align="aligncenter" width="960"] Sumber/Pinterest[/caption] Penulis: Oktavia Rhamadhona (Pengurus LPM Ukhuwah) Opini-Ukhuwahnews | Dalam negara yang menganut asas demokrasi, kekuasaan...
Green Paradoks
[caption id="attachment_4559" align="aligncenter" width="1922"] Ukhuwahdesain/Mohamad Shabir Al-Fikri[/caption] Penulis: Mohamad Shabir Al-Fikri Opini-Ukhuwahnews | Pemanasan global saat ini masih dianggap sebagai...
Ancaman Tersirat dari Penggunaan Chatgpt dalam Proses Aktualisasi Diri
[caption id="attachment_4090" align="aligncenter" width="1024"] Sumber/ Freepik[/caption] Opini-UKhuwahnews | Kemajuan teknologi seakan menjadi priotas utama bagi seluruh negara agar tidak tertinggal...

Average Rating