Read Time:2 Minute, 29 Second
Juru masak M. Rizal sedang mengemas Bubur Suro yang berlokasi di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang, Jum’at (20/02/26). Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

Palembang – Ukhuwahnews | Masjid Al-Mahmudiyah Suro atau yang bias dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Masjid Suro, berlokasi di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang kembali menyelenggarakan tradisi berbagi Bubur Suro ke masyarakat selama bulan Ramadan, Jum’at (20/02/2026).

Ketua masjid, Kgs. Abdul Rasyid Naning menjelaskan awal mula tercetusnya ide tradisi berbagi Bubur Suro yang dikenal ikonik di Palembang.

“Tadinya ulama-ulama di sini mereka punya inisiatif, bagaimana setiap puasa itu mengajak orang yang lewat untuk berbuka bersama, jadi timbulnya ide ini,” katanya ketika diwawancarai di Masjid Al-Mahmudiyah Suro.

Sementara itu, ia mengatakan bahwa tradisi Bubur Suro ini sudah ada dari puluhan tahun yang lalu dan terjadinya perubahan.

Baca juga: Upaya Kolektif Pemerataan Akses Internet dan Peluang Beasiswa

“Dibuat oleh orang tua kita terdahulu tadinya di buat setiap As Syuro pada tanggal 10 Muharram, dan sekarang dibuat selama bulan Ramadhan penuh,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan terkait sistem donatur dalam pembuatan Bubur Suro ini merupakan hasil dari donasi masyarakat sekitar.

“Punya anggaran tetap untuk pembuatan Bubur Suro dan masuknya dana itu dari infak jama’ah dan lingkungan sekitar setiap hari,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, terkait dana dalam pembuatan Bubur Suro ini merupakan hasil dari donasi.

“Punya anggaran tetap untuk pembuatan Bubur Suro dan masuknya dana itu dari infak jama’ah dan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Di sisi lain, tradisi berbagi Bubur Suro ini sudah mendapatkan sertifikat dari Kementerian Kebudayaan.

“Bahwa Bubur Suro sendiri, mendapat sertifikat dan masuk sebagai 11 warisan tak benda di Sumatera Selatan,” tegasnya.

Di samping itu, ia menjelaskan porsi bubur suro yang dibagikan selama bulan suci Ramadhan.

“Dibuat sebanyak 10 kilogram untuk 10 hari pertama dan akan berkurang porsinya pada akhir Ramadhan, di bagikan ke masyarakat sebanyak 500 porsi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ratusan porsi Bubur Suro ini akan di bagikan oleh pengurus masjid kepada masyarakat sekitar.

“Dibagikan ke jama’ah dan para pengurus masjid serta masyarakat sekitar yang ikut numpang berbuka di sini,” ujarnya.

Terlebih lagi, ia berharap agar tradisi Bubur Suro ini tetap berjalan untuk setiap tahunnya di bulan Ramadhan.

“Kami berharap agar tetap menjadi warisan budaya yang tetap terjaga karena bukan hanya di sini saja tapi juga ada di tempat lain,” tutupnya.

Di tempat yang sama,  ketua juru masak Sholeh Solihin menjelaskan bahan utama dalam pembuatan Bubur Suro.

“Beras 10 kilogram, daging as 1,5 kg, tetelan 1,5 kg, kecap 3 botol, dan masako 3 sachet,” pungkasnya.

Di lain sisi, warga yang antusias dalam mengikuti warisan budaya Bubur Suro. Harun selaku penerima Bubur Suro mengatakan bahwa Bubur Suro ini berbeda dari bubur lain dan berharap agar tradisi ini tetap berjalan.

“Selain gratis, bubur ini berbeda dimana dalam proses pembuatannya dan berharap agar tradisi ini tidak putus,” tutupnya.

Reporter: Ali Nur Rachman
Editor: Jimas Muamar

About Post Author

Ali Nur Rachman

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Upaya Kolektif Pemerataan Akses Internet dan Peluang Beasiswa
Next post Ibu Melek Kurikulum, Fondasi Masa Depan Anak