Read Time:3 Minute, 37 Second
Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla

Penulis: Nabilla Kartika Wiranti (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah 2026) 

Opini-Ukhuwahnews| Dalam sepekan terakhir laman media sosial dipenuhi oleh lagu ‘My Little Bolu Ketan’ dengan lirik ‘MBG: Mas Bahlil Ganteng’. Lagu tersebut dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI) tertuju kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Bermula dari komentar warga internet, kemudian dijadikan lirik lagu yang akhirnya ramai digunakan oleh netizen dalam berbagai postingan video.

Kemudian lagu tersebut terasa ‘candu’ di publik melalui potongan liriknya:

MBG Mas Bahlil Ganteng

Buah apa yang paling manis?

Buahlil

Tambah Ganteng Aja

My Little Bolu Ketan

Yang dirasa konyol dan menyenangkan, sehingga banyak video meme yang diedit oleh netizen dengan wajah Bahlil. Benarkah lagu ini merupakan hiburan? atau justru menjengkelkan karena memicu over react dari netizen, yang semestinya tidak memberi ruang berlebihan terhadap hal absurd tersebut.

Baca Juga: Kenal Hutan Kenal Masa Depan, Edukasi Lingkungan untuk Generasi Muda

Esensi Lagu Bukan Lelucon Semata, Bisa Terselip Hal Lain yang Dikemas Dialamnya.

Ketika lagu ini melintas di beranda media sosial, mungkin sekilas terasa cukup menghibur. Apalagi Bahlil adalah tokoh politik yang tentu dikenal oleh publik, maka ini juga menjadi salah satu faktor meluasnya tanggapan masyarakat terkait lagu tersebut. Namun, lagu yang dianggap lelucon tersebut tidak layak untuk dijadikan sebuah bahan candaan. Jika dilihat lebih jauh, hal seperti ini bisa memberi ruang untuk taktik propaganda.

Seperti yang didefinisikan oleh Harold D. Lasswell, propaganda sebagai kontrol atas opini melalui penggunaan simbol-simbol, manipulasi cerita, rumor, serta komunikasi massa lainnya untuk memengaruhi kelompok yang menjadi sasaran. Propaganda tidak melulu mesti melalui pidato atau ruang formal, sebab propaganda bisa disebar secara luas dengan diselipkan dari tanda. Dalam Komunikasi Politik, tanda meliputi; bahasa verbal, bahasa tubuh, penampilan, dan tanda visual hingga audio.

Sosiolog Jacques Ellul memandang propaganda sebagai fenomena sosial. Ellul beranggapan propaganda merupakan ‘lingkungan’ yang mengelilingi kita setiap hari, menggabungkan antara periklanan, hubungan masyarakat, dan nilai-nilai teknis yang bekerja membentuk cara berpikir masyarakat modern secara keseluruhan.

Lantas, jika nyanyian ‘Mas Bahlil Ganteng’ dikaji, bisa masuk ke dalam ruang Soft Propaganda karena menggunakan figur publik dan dikemas melalui lagu yang dianggap menghibur. Dari lagu berjudul My Little Bolu Ketan beserta konten penyampaian informasi tentang Bahlil dengan cara editan humor, berpotensi menurunkan kerasionalan masyarakat dalam memandang politisi secara fungsional. Selain itu, hal sejenis ini cenderung disukai masyarakat sebagai distraksi dari menyaksikan berita terkait rumitnya persoalan yang ada di Indonesia.

Contoh Motif Serupa: Lagu Oke Gas sebagai Alat Kampanye Prabowo pada Pemilu 2024

Kilas balik masa kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia, yakni Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming. Hal serupa terjadi diterapkan oleh Pasangan Calon (Paslon) 02 yang identik dikenal dengan lagu ‘Oke Gas’. Liriknya diubah dan dibuat khusus untuk kebutuhan kampanye, disertai dengan jogetan khas Prabowo. Melalui gimmick jogetan di setiap panggung kampanye, lagu Oke Gas menarik perhatian khalayak ramai dari berbagai kalangan usia, terutama generasi muda karena liriknya yang mudah diingat (earworm), serta irama musiknya yang memantik rasa heboh dan semangat.

Bukan tanpa alasan, lagu tersebut tentu sengaja disetting untuk mengidentifikasi Paslon 02 selama kampanye pemilu 2024. Efeknya ialah terbukti melalui opini publik condong memandang Prabowo sebagai sosok ‘Gemoy’. Sehingga mengubah kampanye menjadi panggung pertunjukan, sesi debat politik seakan kurang mendominasi di mata publik, justru momen joget-joget lebih diminati oleh masyarakat karena menganggap Capres Prabowo adalah figur yang asik dan menyenangkan. Padahal, lagu Oke Gas ternasuk dalam praktik soft propaganda yang berfokus untuk meraih dukungan suara saat pemilu.

Memangnya Apa Pengaruh Lagu Dalam Politik?

Dalam Komunikasi Politik, secara fungsional lagu berperan sebagai sarana komunikasi, alat propaganda, media kritik sosial, hingga untuk membangun identitas. Pada propaganda yang diselipkan melalui hiburan seperti lagu, mampu membangun respon emosional positif yang menyebabkan publik lebih familiar dengan cover citra menyenangkan.

Soft propaganda motif ini bekerja tanpa disadari secara langsung oleh masyarakat, karena memengaruhi secara perlahan lewat sajian konten-konten ringan di media sosial yang menggunakan lagu menghibur. Pada akhirnya akan menumpulkan pemikiran dan sikap kritis publik yang membuat tergesernya rasionalitas terhadap nilai-nilai moral dan pesan ideologis, sehingga nantinya masyarakat akan dengan mudah menerima pencitraan dari tokoh publik.

Maka, semestinya masyarakat lebih selektif dalam merespon bahan candaan di media sosial, jangan memberi respon dan ruang terhadap hal yang tidak bermutu. Apalagi pribadi yang bersangkutan adalah pemangku kebijakan, yang seharusnya dipantau kinerjanya secara fungsional, bukan sebatas citra dan popularitas semata.

Editor: Jimas Muamar

About Post Author

Nabilla Kartika Wiranti

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
50 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
50 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kenal Hutan Kenal Masa Depan, Edukasi Lingkungan untuk Generasi Muda