
Penulis: Jimas Muamar (Pengurus LPM Ukhuwah)
Palembang – Ukhuwahnews | Menjelang waktu berbuka puasa, asap tipis mengepul dari arah dapur Masjid Al-Mahmudiyah Suro di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II. Sejumlah jemaah berdiri mengelilingi panci besar, bergantian mengaduk bubur yang dimasak di atas tungku.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari tradisi Bubur Suro yang rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadan. Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi agenda tetap masjid setiap tahunnya.
Pada awalnya, bubur hanya dimasak setiap 10 Muharam. Masyarakat mengenalnya sebagai Bubur Asyura yang dibagikan kepada warga sekitar. Namun, kebiasaan tersebut kemudian berkembang hingga dilakukan juga sepanjang Ramadan untuk berbuka bersama.
Ketua pengurus masjid, Kgs. Abdul Rasyid Naning menjelaskan bahwa tradisi ini bermula dari ajakan para ulama terdahulu.
“Dulu para ulama di sini mengajak jemaah dan orang yang lewat untuk berbuka bersama. Dari situlah bubur ini mulai dibuat,” ujarnya.
Menurutnya, generasi saat ini hanya melanjutkan kebiasaan yang telah dirintis sejak lama. Ia menegaskan agar tradisi tersebut tidak terputus oleh waktu.
Kini, bubur suro telah mendapatkan sertifikat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Pengakuan tersebut memperkuat posisi tradisi ini sebagai bagian dari budaya lokal Palembang.
Di samping itu, dalam satu kali proses memasak, panitia menyiapkan sekitar 2 hingga 2,5 kilogram daging sapi dan 1 kilogram tetelan. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam rebusan bersama beras dan bumbu.

Tiga botol kecap asin, sekitar 4 ons garam, serta racikan rempah khas menjadi campuran utama. Seluruh bahan dimasak dalam panci berukuran besar selama beberapa jam hingga matang.
Di tempat yang sama, ketua juru masak Sholeh Solihin memastikan takaran bahan selalu dicatat agar rasa tetap konsisten.
“Takaran sudah ada catatannya. Dari beras sampai bumbu harus sama supaya rasanya tidak berubah,” jelasnya.
Pada awal Ramadan, beras yang dimasak mencapai 10 kilogram per hari. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang datang untuk berbuka.
Dalam kaca mata Abdul Rasyid, jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 6 hingga 7 kilogram per hari.
Baca Juga: Dari Kebun Nanas, Ketahanan Ekonomi Desa Tanjung Medang Terjaga
Memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan, jumlah beras biasanya dikurangi menjadi sekitar 7 hingga 9 kilogram per hari, tergantung dana infak yang terkumpul.
Dana kegiatan ini sepenuhnya berasal dari infak jemaah dan masyarakat sekitar. Pengelolaannya dilakukan oleh panitia kegiatan Ramadan yang juga merangkap sebagai panitia Bubur Suro, Zakat Fitrah, dan Idulfitri.
Sementara itu, proses memasak dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan bahan, mengaduk bubur, hingga membagikannya.
Menjelang azan magrib, Bubur mulai dibagikan kepada jemaah tetap, warga sekitar, dan masyarakat yang sengaja datang untuk berbuka sekaligus menunaikan salat berjemaah.

Bubur yang telah dibagikan, sebagian ada yang menikmatinya di pelataran masjid, sementara sebagian lainnya membawa pulang dalam wadah sederhana.
Tradisi ini tetap berjalan bahkan saat pandemi COVID-19, meskipun dengan berbagai penyesuaian.
Setiap sore Ramadan, aktivitas yang sama kembali terulang. Panci dipanaskan, bubur diaduk, dan masyarakat berkumpul. Dari dapur sederhana Masjid Suro, tradisi berbagi itu terus menjaga kebersamaan yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
Editor: Manda Dwi Lestari
About Post Author
Jimas Muamar
More Stories
Dari Kebun Nanas, Ketahanan Ekonomi Desa Tanjung Medang Terjaga
[caption id="attachment_5177" align="aligncenter" width="1280"] Pemandangan kebun nanas yang baru saja ditanam dan diberi pupuk, di Desa Tanjung Medang, Sabtu (17/01/2026)....
30 Tahun Menyandarkan Hidup pada Perahu Ketek
[caption id="attachment_5170" align="aligncenter" width="1280"] Seorang pengemudi perahu ketek sedang duduk menunggu penumpang di pinggir Sungai Musi, Sabtu (17/01/2025). Ukhuwahfoto/Kiranty Dwi...
Dari Balik Layar Gebyar PIAUD 2025 : Kisah Guru TK yang Mengantar Mimpi Kecil Murid-Muridnya
[caption id="attachment_4986" align="aligncenter" width="1280"] Potret Aulia Hanum menjadi peserta lomba mewarnai Gebyar PIAUD 2025 di gedung Academic Center UIN Raden...
Dari Jaring ke Cangkul: Perjalanan Hidup Nelayan yang Beralih Menjadi Petani
[caption id="attachment_4965" align="aligncenter" width="2560"] Dretan rumah beratap merah berjajar di tepi aliran sungai, Dikelilingi sawah hijau di Kabupaten Penukal Abab...
Kisah Dua Perempuan Perjuangkan, Warisan Tari Setambul Due
[caption id="attachment_4954" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Dea Aprilia (Pengurus LPM Ukhuwah) PALI-Ukhuwahnews | Tepat di tengah hari, aku mendatangi kediaman...
Sedupi Menangis di Balik Tarian: Siapa yang Akan Menari Setelah Kami?
[caption id="attachment_4883" align="aligncenter" width="1600"] Tiga Maestro penari Tari Si Burung Putih dan kain songket khas Palembang. Minggu, (16/112025) Ukhuwahfoto/Jimas Muamar[/caption]...

Average Rating