
Penulis: Sri Wahyuni (Pengurus LPM Ukhuwah)
UIN RF – Ukhuwahnews | Tetes-tetes hujan yang turun deras kemarin malam masih menyisakan udara dingin di halaman Gedung Academic Center UIN Raden Fatah Palembang. Namun, suasana itu berubah hangat begitu suara anak-anak berseragam Taman Kanak-Kanak (TK) memenuhi ruangan.
Di antara keramaian itu, seorang perempuan berkerudung kuning muda berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya memberi semangat kepada murid-muridnya yang tengah mengikuti lomba. Raudilah (25), guru TK RA Perwanida 1, yang pagi itu tampak seperti pelindung sekaligus ibu kedua bagi anak-anak tersebut.
“Anak-anak gak ada yang takut atau grogi, sebaliknya mereka malah sangat semangat mengikuti lomba,” katanya sambil tersenyum, dengan sesekali menatap anak-anak.
Baca juga: Dari Jaring ke Cangkul: Perjalanan Hidup Nelayan yang Beralih Menjadi Petani
Hari itu, murid-muridnya mengikuti lomba mewarnai, tahfidz, dan menyanyi dalam rangka Gebyar PIAUD 2025, acara bertema Integrating Creative Learning and Islamic Mindfulness Towards Golden Generation 2045 yang diikuti lebih dari 30 PAUD dan TK se-Kota Palembang. Serta di cabang lomba lain, seperti Mendongeng, Micro Teaching, dan Alat Permainan Edukatif (APE) yang terbuka untuk mahasiswa dan guru tingkat nasional.
Bagi Raudilah, perjalanan membawa anak-anak tampil di panggung bukan sekadar soal menang.
“Gak masalah menang atau kalah, yang penting mereka berani mencoba,” ujarnya pada Academic Center, UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (02/12/2025).

Di tengah ketegangan lomba, seorang perempuan muda berkerudung coklat, Hidayatullah Mahmudah (36), ibu dari peserta lomba mewarnai. Saat itu putrinya Aulia, tampak bersemangat menggoreskan kumpulan warna di atas kertas bergambar.
Ia mengungkapkan bahwa selain memberi semangat, hal seperti fasilitas juga harus dipenuhi, agar anak merasa mimpinya didukung.
“Sebagai orangtua, tentu fasilitas harus kita penuhi, seperti pensil warna, spidol, dan lain-lain. Di rumah juga Aulia saya dampingi saat belajar,” tuturnya.
Mahmudah juga mengungkapkan bahwa kagum dengan guru PAUD dan TK yang begitu sabar mendidik anak-anak.
“Guru-gurunya sabar sekali, mereka sangat telaten dalam mengajar dan membimbing,” ucapnya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa sering kali merasa sedih melihat penghasilan guru yang tidak sebanding dengan pengorbanan mereka. Menurutnya, profesi yang memegang peran penting dalam membentuk karakter anak sejak dini sudah selayaknya mendapatkan penghargaan dan perhatian yang lebih baik, termasuk dalam hal kesejahteraan.
Dari balik keramaian para guru dan orang tua, ketua Pelaksana, Nabila Septriani mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengintegrasikan pembelajaran kreatif dan islami.
“Diharapkan acara ini bisa menumbuhkan semangat anak-anak, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan di tahun 2045,” ujarnya.
Acara Gebyar PIAUD lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah ruang untuk melihat perkembangan anak, sekaligus bukti dari kerja keras guru.
Dan di balik sorak sorai lomba hari itu, kisah dan puluhan guru TK dan PAUD lainnya menjadi pengingat bahwa setiap keberanian kecil seorang anak selalu dimulai dari seseorang yang lebih dulu percaya pada mereka.
Editor: Ahmad Hafiizh Kudrawi
About Post Author
Ahmad Hafiizh Kudrawi
More Stories
Ribuan Pengunjung Padati Pulau Kemaro, Aparat Pastikan Perayaan Aman
Penulis: Jimas Muamar (Pengurus LPM Ukhuwah) Palembang - Ukhuwahnews | Lampion merah bergantungan, memancarkan cahaya hangat di tengah gelap malam...
Tradisi Bubur Suro, Warnai Ramadhan di Masjid Al-Mahmudiyah Suro
[caption id="attachment_5584" align="aligncenter" width="1280"] Para jemaah sedang menunggu waktu buka puasa di Masjid Al-Mahmudiyah Suro. Ukhuwahfoto/Jimas Muamar[/caption] Penulis: Jimas Muamar...
Dari Kebun Nanas, Ketahanan Ekonomi Desa Tanjung Medang Terjaga
[caption id="attachment_5177" align="aligncenter" width="1280"] Pemandangan kebun nanas yang baru saja ditanam dan diberi pupuk, di Desa Tanjung Medang, Sabtu (17/01/2026)....
30 Tahun Menyandarkan Hidup pada Perahu Ketek
[caption id="attachment_5170" align="aligncenter" width="1280"] Seorang pengemudi perahu ketek sedang duduk menunggu penumpang di pinggir Sungai Musi, Sabtu (17/01/2025). Ukhuwahfoto/Kiranty Dwi...
Dari Jaring ke Cangkul: Perjalanan Hidup Nelayan yang Beralih Menjadi Petani
[caption id="attachment_4965" align="aligncenter" width="2560"] Dretan rumah beratap merah berjajar di tepi aliran sungai, Dikelilingi sawah hijau di Kabupaten Penukal Abab...
Kisah Dua Perempuan Perjuangkan, Warisan Tari Setambul Due
[caption id="attachment_4954" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Dea Aprilia (Pengurus LPM Ukhuwah) PALI-Ukhuwahnews | Tepat di tengah hari, aku mendatangi kediaman...

Average Rating