Read Time:2 Minute, 17 Second
Pemandangan kebun nanas yang baru saja ditanam dan diberi pupuk, di Desa Tanjung Medang, Sabtu (17/01/2026). Ukhuwahfoto/Sri Wahyuni

Penulis: Sri Wahyuni (Pengurus LPM Ukhuwah)

Muara Enim – Ukhuwahnews | Matahari terbit menyinari Desa Tanjung Medang, Kecamatan Kelekar, Muara Enim. Pada sela embun yang masih menggantung di daun nanas, langkah ringkih seorang petani menyusuri kebun.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian serba merah, menghela peluh di pelipisnya. Ia Ansori, seorang petani nanas.

Nanas menjadi salah satu komoditas yang paling diandalkan masyarakat sekitar untuk menopang ekonomi rumah tangga. Tanaman berduri ini tumbuh di pekarangan dan kebun warga, menjadi sumber penghasilan yang meski tidak selalu besar, namun cukup untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

“Kalau musim penghujan seperti ini, setiap kali panen nanas dijual sekitar harga tiga sampai empat ribu rupiah,” ujarnya dengan senyum nampak gigi pada Sabtu (17/01/2026).

Baca juga: 30 Tahun Menyandarkan Hidup pada Perahu Ketek

Merawat kebun nanas membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Dari proses menanam, memberi pupuk, dan menunggu masa panen, semua dilakukan secara bertahap. Panen nanas tidak datang setiap hari, namun ketika tiba, hasilnya menjadi harapan untuk menutup kebutuhan dapur, biaya sekolah anak, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

“Nanas baru bisa dipanen sekitar delapan bulan sampai satu tahun,” lanjut Ansori.

Hasil panen biasanya dijual dalam bentuk buah satuan kepada pengepul. Dalam satu kali panen, pendapatan yang diperoleh memang tidak menentu, bergantung pada jumlah buah dan harga pasar. Walaupun demikian, nanas tetap menjadi pilihan, karena relatif mudah dirawat dan mampu tumbuh di kondisi tanah desa.

Di balik aktivitas berkebun, nanas bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang bertahannya sebuah keluarga. Nanas menjadi penopang yang membantu keluarga tetap bertahan.

“Kalau lagi musim penghujan seperti ini, jadi makin lama proses panennya,” keluh Ansori.

Ketahanan ekonomi keluarga lewat kebun nanas juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Dari musim hujan yang bisa menyebabkan banjir, harga jual yang fluktuatif dan ketergantungan pada pengepul membuat nilai ekonomi nanas belum sepenuhnya optimal. Selain itu, belum banyak warga Desa Tanjung Medang yang mengolah nanas menjadi produk bernilai tambah, sehingga potensi ekonomi dari komoditas ini masih terbatas.

Namun demikian, warga tetap melestarikan kebun nanas dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, kebun ini adalah bentuk pengabdian turun-temurun untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan ekonomi desa. Setiap buah nanas yang tumbuh adalah simbol ketekunan dan kesabaran dalam menjaga kehidupan keluarga.

Momen mahasiswa KKN kelompok 65 berkunjung ke kebun nanas Desa Tanjung Medang, Sabtu (17/01/2026).

Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Fatah Palembang di Desa Tanjung Medang membuka ruang diskusi tentang potensi pengembangan ekonomi keluarga berbasis sumber daya lokal. Dari kebun nanas inilah, percakapan tentang kemandirian ekonomi desa mulai tumbuh.

Editor: Manda Dwi Lestari

 

About Post Author

Manda Dwi Lestari

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post 30 Tahun Menyandarkan Hidup pada Perahu Ketek