
Penulis : Jimas Muammar
Desa Sedupi dikelilingi sawah luas dan kebun karet yang memanjang hingga ke tepi perkampungan. Rumah-rumah panggung berdiri berjejer, sebagian masih bertumpu pada papan kayu tua yang menghitam dimakan usia. Di desa inilah sebuah tradisi penting dijaga. Tari Si Burung Putih, tarian yang hidup dari generasi ke generasi.
Dengan memakai jilbab abu-abu dan baju bemotif padi, Suhaina (45) sedang mengaret para ketika saya menemuinya pada Minggu, (16/11/2025).
Gerakan tangannya tak berhenti bekerja, namun ia tetap menyempatkan diri menyapa dengan senyum pelan. Di tengah aktivitasnya itu, Suhaina mulai bercerita tentang bagaimana tradisi yang mereka jaga termasuk Tari Si Burung Putih menjadi bagian dari identitas masyarakat Sedupi.
Baca juga: Perempuan-Perempuan Tangguh di Ujung Sawah Sedupi
“Tari Si Burung Putih inilah yang urang masyarakat tu ribang, kalau di kami kan mengharu ke yang sejarah-sejarahnye waktu dulu de,” ujarnya.
(Tari Si Burung Putih inilah yang selalu membuat masyarakat suka karena sejarah-sejarahnya dahulunya).
Ia bercerita tentang Tari Si Burung Putih sambil menunjukkan beberapa gerakan tangan yang biasa dibawakan dalam tarian itu. Ia menjelaskan bahwa gerakan-gerakan tersebut memiliki makna tersendiri dan biasanya diiringi musik tradisional khas Desa Sedupi.
Dalam setiap pementasan, para penari mengenakan kebaya halus dipadukan dengan songket Palembang hasil tenunan para pengrajin lokal. Motif dan warnanya yang cerah membuat kain itu tampak berkilau ketika terkena cahaya.
Sementara itu, irama tradisional yang dinyanyikan seorang penyanyi mengalun pelan, mengisi ruang di antara gerakan para penari.
Tari Si Burung Putih bukan hanya milik satu kelompok atau satu generasi. Tarian ini menjadi milik seluruh warga desa.
Ketika Bupati mengundang mereka tampil dalam acara resmi, warga merasakan kebanggaan tersendiri. Undangan demi undangan menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat, meski modernisasi terus melaju.
Namun, di balik kebanggaan itu, terselip kekhawatiran mengenai siapa yang akan melanjutkan tarian ini di masa mendatang, di tengah anak-anak muda yang kian sibuk dengan dunia mereka.
“Cak mane de budak ni jaman sekarang dekde galak lagi nak balajar nari, uji budak-budak ni lah dak zaman lagi,” Keluh suhaina, matanya memerah. (Susah sekali sekarang mengajak anak-anak mau menari, karena sudah tidak zaman lagi).
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Beberapa tradisi di desa mulai jarang dipraktikkan minimnta minat generasi muda. Untuk menjaga Tari Si Burung Putih tetap hidup, para penari dan tokoh adat rutin membuka latihan, membuat pementasan kecil, dan melibatkan anak-anak desa dalam setiap kesempatan.
“Kalu bukan kite, siape lagi yang nak nari ni. Makanye kami nak neruske tarian ini, biar betine ni yang jadi penerusnye,” tegasnya.
(Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menarikan? Karena itu kami meneruskan tarian ini agar anak-anak perempuan menjadi penerusnya).
Editor: Vivin Noor Azizah
About Post Author
Vivin Noor Azizah
More Stories
Menelisik Cerita Animisme Runtuh di Desa Sedupi
[caption id="attachment_5105" align="aligncenter" width="1074"] Ukhuwah Desain/Ahmad Hafiz Qudrawi[/caption] Kentalnya unsur animisme tak bisa disangkal sangat kuat terutama di Nusantara, karena...
YIM Sumsel Dorong Literasi Jurnalis Untuk Perangi HIV, TB dan NAPZA di Palembang
[caption id="attachment_4997" align="aligncenter" width="1619"] Penyampaian materi oleh Nila erina pada acara Program Community Strengthening system-Human Right di Azza Hotel Kota...
Dari Balik Layar Gebyar PIAUD 2025 : Kisah Guru TK yang Mengantar Mimpi Kecil Murid-Muridnya
[caption id="attachment_4986" align="aligncenter" width="1280"] Potret Aulia Hanum menjadi peserta lomba mewarnai Gebyar PIAUD 2025 di gedung Academic Center UIN Raden...
Dari Jaring ke Cangkul: Perjalanan Hidup Nelayan yang Beralih Menjadi Petani
[caption id="attachment_4965" align="aligncenter" width="2560"] Dretan rumah beratap merah berjajar di tepi aliran sungai, Dikelilingi sawah hijau di Kabupaten Penukal Abab...
Kisah Dua Perempuan Perjuangkan, Warisan Tari Setambul Due
[caption id="attachment_4954" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Penulis: Dea Aprilia (Pengurus LPM Ukhuwah) PALI-Ukhuwahnews | Tepat di tengah hari, aku mendatangi kediaman...
FJPI Sumsel Gelar Workshop KBGO: Perempuan Masih Rentan Jadi Target Kekerasan Digital
[caption id="attachment_4914" align="aligncenter" width="2560"] Suasana Workshop Isu Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang menghadirkan Jasmine Floretta sebagai narasumber dari Media...

Average Rating