Read Time:1 Minute, 58 Second
Febriansyah dan Marsya mempresentasikan karya patung Belido bertema mikroplastik dalam gelaran Pameran Mikro Plastik, yang berlangsung di halaman Kedai Roemah Tumbuh Kembang Palembang, Kamis (20/11/2025). Ukhuwahfoto/Kiranty Dwi Novitasari

Palembang-Ukhuwahnews| Kedai Roemah Tumbuh Kembang menggelar Mikro Plastik Pameran dengan menyajikan empat karya seni rupa, mulai dari tanggal 20-28 November 2025 di Jalan Mahameru Plaju Palembang.

Mahesa Putra selaku salah satu narator, menjelaskan alasan dibuatnya pameran ini atas dasar keresahan seniman yang merasa kurang puas berkarya di ruang lingkup formal, Kamis (20/11/2025).

‎”Resah karena di ruang kampus tidak bisa mengekspresikan diri dengan bebas, maka dari itu saya membuat ruang sendiri,” jelasnya.

Baca juga: Air Tercemar di Tanah yang Asri, Sedupi Darurat Air Bersih

Lebih lanjut, Mahesa menyebutkan tujuan dari digelarnya Pameran Mikro Plastik ialah sebagai pengingat sosial akan isu lingkungan, terkhusus sampah plastik.

‎”Kami membuat pameran ini untuk menyadarkan tentang betapa dekatnya kita selama ini dengan plastik, namun kita terlalu abai dengan sampah yang ada di sekitar,” sebut Mahesa.

‎Ia juga mengungkapkan dari patung yang dibuat merupakan bentuk implementasi bahwa berkarya tidak ada batasan dalam bereskpresi, serta berpikir secara liar.

“Banyak sudut pandang yang dicurahkan di sini, dari berbagai bidang yang digeluti oleh perupa dan narator,” ungkapnya.

‎Pada Mikro Plastik Pameran terdapat empat karya patung yang terbuat dari kerangka besi dibalut jaring kawat, kemudian diisi sampah plastik, yakni:
‎1. Belido hari ini karya Febriansyah, dengan narator Marsya Dwi Rismanda
‎2. Homo Plasticus karya Tama, dengan narator Mahesa Putra
‎3. Bocah hebat karya Liando, dengan narator Kms. Yudha
‎4. Manusia Setengah Dewa karya Muhamad Farhan, dengan narator Nabilla Kartika

‎Di tempat yang sama seniman Manusia Setengah Dewa, Muhammad Farhan turut menjelaskan alasan di balik pemberian nama patungnya ialah bentuk merespon pola perilaku manusia, terkait kesadaran terhadap sampah.

‎”Kondisinya sekarang banyak manusia yang berlagak seperti dewa, tidak memikirkan dampak dari apa yang mereka perbuat dapat membuat banyak kerusakan,” jelas Farhan saat bicara di teras Roemah Tumbuh Kembang.

Lebih lanjut, Farhan menyebutkan bahwa karya ini di buat untuk refleksi diri, serta pengingat secara menyeluruh.

‎”Saya menyinggung karena banyak orang yang belum sadar akan limpahan sampah, lalu minimnya cara pengolahan,” tutupnya.

Sejak sore hari, pengunjung mulai berdatangan. Narator berinteraksi sambil mempresentasikan karya patung dan narasi yang telah disiapkan.

Penulis: Kiranty Dwi Novitasari, Fajar Dwi Saputra (Calon Anggota LPM Ukhuwah)
Editor: Vivin Noor Azizah

About Post Author

Vivin Noor Azizah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Mengenal Jejak Sultan Mahmud Badaruddin I di Kawah Tekureb, Cikal Bakal Sejarah Palembang
Next post Sedupi Menangis di Balik Tarian: Siapa yang Akan Menari Setelah Kami?