
Bengkulu-Ukhuwahnews | Kata Tabot sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “Peti Kayu” atau “Keranda”, sedikit menyeramkan kalau mendengar artinya. Namun, bentuk Tabot sendiri terlihat begitu megah menyerupai menara yang diarak untuk mengelilingi kota.
Tabot ialah sebuah festival tahunan yang diadakan selama 10 hari di awal bulan Muharam, festival ini diadakan dalam rangka menyambut tahun baru Islam serta mengenang wafatnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang gugur di Medan perang pada tanggal 10 muharram 61 hijriah.
Tabot mulai masuk ke Bengkulu sekitar abad ke-17, bermula dari akulturasi dua budaya. Pertama, dibawakan penyiar agama Islam keturunan nabi atau Zuriat Syekh Burhanudin yang kerap dikenal Imam Senggolo.
Kedua, oleh para pekerja dan tentara Islam Syiah dari India pada saat pembangunan Benteng Marlborough. Kedua tradisi ini dipadukan dengan budaya lokal Melayu Bengkulu dan terus diwariskan turun temurun oleh komunitas Keluarga Kerukunan Tabot (KKT).
Baca juga: Kondisi Pasar Bawah Sepi Pengunjung Semenjak Revitalisasi
Dikutip dari detik.com, selain festival Tabot ada pula beberapa inti rangkaian ritual penting yang hanya boleh dilakukan Keluarga Tabot yaitu:
1. Pengambilan Tanah (Ngambik Tanah)
Ritual ini dilaksanakan pada malam hari sebelum 1 muharram, dengan arti bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali lagi ke tanah.
2. Duduk Penja
Duduk Penja dilangsungkan pada tanggal 4 dan 5 muharram, duduk Penja ialah membasuh benda sakral yang berbentuk tangan lengkap dengan jari jari nya.
3. Menjara
Menjara biasanya diadakan pada tanggal 5-6 muharram setelah sholat isya, menjara artinya berkunjung atau bermaksud untuk bersilaturahmi ke keluarga Tabot lain.
4. Malam Arak Jari dan Arak Sorban
Arak jari dilangsungkan pada tanggal 7 muharram dengan menempatkan Penja yang sudah didudukan di atas Tabot Coki, untuk Arak Sorban sendiri dilakukan pada tanggal malam tanggal 8 muharram
5. Hari Gam
Hari Gam atau hari sunyi, dimana tidak boleh ada bunyi bunyian sampai Tabot naik pangkek dimulai dari pagi hari tanggal 9 muharram
6. Tabot Naik Pangkek
Berlangsung pada siang hari di tanggal 9 muharram, yaitu menyatukan bangunan puncak Tabot dengan bangunan Tabot gedang.
7. Malam Arak Gedang
Pada sore hari sebelum dibawa bersanding ke tanah lapang, Tabot dibawa terlebih dahulu ke Gerga untuk menaikan Soja dan Penja, barulah setelah itu Tabot bersanding di malam hari.
8. Arak-Arakan Tabot Tebuang
Pada pagi hari tanggal 10 muharram Tabot kembali di arak menuju tanah lapang, setelah itu Tabot dibawa ke Kerabela, namun sebelum itu, Tabot menyembah terlebih dahulu kepada Tabot Imam dan Tabot Bangsal.
Di pintu gerbang Kerabela, Tabot sudah disambut juru kunci dan diperbaiki aksesoris yang patah dan salah penempatan, barulah sesudah itu, Tabot masuk ke komplek pemakaman Kerabela, sampai di sana dilaksanakan penyerahan Tabot kepada leluhur.
Itulah beberapa rangkaian acara dalam pelaksanaan festival Tabot, di Festival ini juga biasanya banyak tenant Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berisi makanan khas Bengkulu yang jarang ditemui, selain makanan tradisional disini juga beragam makanan kekinian, jadi jangan takut berkunjung disini karena hanya ada makanan tradisional saja yaa sobat Ukhuwah.
Penulis: Vivin Noor Azizah
Editor: Ahmad Hafiizh Kudrawi
About Post Author
Ahmad Hafiizh Kudrawi
More Stories
Empat Anggota Pramuka UIN Raden Fatah Terjun Jadi Relawan Bencana di Tapanuli Selatan
[caption id="attachment_5153" align="aligncenter" width="2560"] Dok/Pramuka UIN RF[/caption] Tapanuli Selatan - Ukhuwahnews | Empat anggota Pramuka UIN Raden Fatah Palembang turut...
Pernikahan Adat Melayu di Era Digital: Pelestarian Nilai Tradisional melalui Media Modern
[caption id="attachment_5112" align="aligncenter" width="2560"] Sepasang patung menggunakan pakaian pengantin tradisional khas adat melayu, Kamis(18/12/2025). Ukhuwahfoto/Andika[/caption] Artikel - Ukhuwahnews | Perkembangan...
Masakan Melayu di Era Digital: Antara Tradisi dan Perubahan Zaman
[caption id="attachment_5109" align="aligncenter" width="612"] Sumber/Pixabay[/caption] Artikel - Ukhuwahnews | Masakan tidak pernah berdiri sendiri dalam kebudayaan Melayu. Ia hadir sebagai...
Busana Melayu di Era Digital Alami Perubahan, Antara Nilai Islam dan Tantangan Globalisasi
[caption id="attachment_5091" align="aligncenter" width="1080"] Ukhuwahdesain/Vivin Noor Azizah[/caption] Artikel - Ukhuwahnews | Busana Melayu merupakan elemen krusial dari identitas budaya yang...
Di Bawah Atap Arsitektur Melayu: Jejak Adat yang Bergeser di Era Digital
[caption id="attachment_5058" align="aligncenter" width="2560"] Sumber/Freepik[/caption] Artikel - Ukhuwahnews | Era digital telah membawa transformasi mendalam pada berbagai aspek kehidupan manusia,...
Tanah Rusak, Sawit Merajalela: Alarm Bahaya dari Perkebunan yang Tak Terkendali
[caption id="attachment_5052" align="aligncenter" width="640"] Dok/Kumparan[/caption] Artikel - Ukhuwahnews | Perubahan penggunaan lahan dari hutan atau lahan alami menjadi perkebunan kelapa...

Average Rating