Read Time:4 Minute, 29 Second
Sumber/Freepik

Artikel – Ukhuwahnews | Era digital telah membawa transformasi mendalam pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk adat dan budaya Melayu yang telah berakar sejak berabad-abad lalu. Adat Melayu, yang sering kali diidentikkan dengan nilai-nilai seperti gotong royong, kesopanan, dan harmoni dengan alam, kini menghadapi tentangan dari globalisasi, teknologi informasi, dan urbanisasi, seperti yang dijelaskan oleh Khoo Salma Nasution dalam bukunya “Malay Architecture (Didier Millet,2018).

Dalam konteks arsitekstur, perubahan ini terlihat jelas melalui transisi dari rumah tradisional Melayu seperti rumah panggung yang menggunakan bahan alami dan desain yang menyesuaikan dengan lingkungan, menuju bangunan modern yang mengadopsi gaya internasional, gedung tinggi dengan elemen futuristik, sebagaimana di analisis oleh Ahmad Zaki Abdullah dalam artikelnya The Evolution of Malay Vernacular Architecure in the Digital Age di Jurnal of Southeast Asian Studies (Volume 45, Issue 2,2020).

Isu kontemporer ini muncul karena arsitektur Melayu tradisional, yang terinspirasi dari nilai-nilai Islam seperti kesederhanaan dan keseimbangan, kini sering kali dikompromikan oleh kebutuhan praktis di era gital.

Baca juga:Tanah Rusak, Sawit Merajalela: Alarm Bahaya dari Perkebunan yang Tak Terkendali

Misalnya , penggunaan teknologi seperti aplikasi desain 3D dan bahan sintetis telah mengubah cara pembangunan rumah, yang dulunya melibatkan komunitas lokal, menjadi proses inividual dan cepat, seperti dibahas oleh Syed Hussein Alatas dalam bukunya The Malays: Their Problems and Future (Heineman Asia, 1977).

Nilai budaya Melayu, yang sering tercermin dalam konsep ”Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”, menekankan harmoni, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap alam, sebagaimana dikupas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya “Islam and Malay Adat: A Study of Ritual and Values (ABIM, 1995)”. Dalam arsitektur ini, terwujud melalui desain rumah panggung yang menggunakan kayu, atap, sirap, dan orientasi yang menghadap kiblat untuk memfasilitasi ibadah. Namun, di era digital, nilai-nilai ini bergeser akibat pengaruh global.

Harmoni dengan Tuhan tercermin dalam arsitektur masjid Melayu yang sederhana namun elegan, di antaranya Masjid Kampung Laut di Kelentan, yang mengintegrasikan elemen Islam dengan motif Melayu, seperti yang dijelaskan oleh Norsiah Abdul Rahman dalam artikelnya Contemporary Malay Mosque Design: Balancing Tradition and Modernitydi International Journal of Islamic Architecture (Volume 8, Issue 1, 2019).

Lanjut pada harmoni dengan manusia ditunjukan oleh desain komunal rumah Melayu, seperti memfasilitasi interaksi sosial. Saat ini, bangunan apartemen modern di kota seperti Kuala Lumpur menggantikan ini dengan unit terpisah, didorong oleh aplikasi perencanaan digital yang memprioritaskan efisiensi daripada komunitas, sebagaimana disoroti kembali oleh Khoo Salma Nasution dalam “Malay Architecture ” (Didier Millet, 2018).

Hal ini tentu mengancam nilai gotong royong, karena pembangunan kini sering dilakukan oleh perusahaan asing tanpa keterlibatan Masyarakat lokal.

Setelah itu, harmoni dengan alam tercermin dalam penggunaan bahan ramah lingkungan. Era digital memperkenalkan bahan sintetis seperti beton dan kaca, yang lebih tahan lama namun kurang berkelanjutan. Misal, proyek arsitektur kontemporer di Malaysia, bangunan hijau di Putrajaya, menggabungkan teknologi hijau namun sering kali mengabaikan motif Melayu tradisional ukiran kayu, menurut yang dianalisis oleh Ahmad Zaki Abdullah dalam The Evolution of Malay Vernacular Architecture in the Digital Age(Journal of Southeast Asian Studies Vaolume 45, Issue 2,2020).

Secara keseluruhan, melalui analisis ini menunjukkan bahwa perubahan adat Melayu dalam arsitektur bukanlah evolusi murni, melainkan hibridisasi yang berpotensi menggerus identitas budaya.

Nilai-nilai seperti  kesederhanaan dan harmoni masih ada, tetapi mereka harus di integrasikan dengan inovasi digital untuk menghindari alienasi generasi muda, sebagaimana ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and “Malay adat: A Study of Ritual and Values” (ABIM, 1995).

Mengenai perubahan adat Melayu di era digital, khususnya dalam arsitektur, bukanlah ancaman mutlak, melainkan peluang untuk revitalisasi. Solusi yang dapat diusulkan meliputi:

Pertama, Integrasi Teknologi dengan Nilai Budaya: gunakan aplikasi digital untuk mendokumentasikan dan mereplikasi motif Melayu tradisional, seperti melalui augmented reality yang memungkinkan desainer memvisualisasikan rumah panggung modern dengan bahan ramah lingkungan, seperti yang direkomendasikan oleh Norsiah Abdul Rahman dalam Contemporary Malay Mosque Design: Balancing Traditional and Modernity” ( International Journal of Islamic Archecture, Volume 8, Issue 1, 2019).

Lalu kedua, Pendidikan dan Kesadaran Komunitas: Program pendidikan di sekolah dan universitas, seperti kursus arsitektur Melayu digital, dapat mengajarkan generasi muda tentang nilai-nilai budaya. Misalnya, kolaborasi antara arsitek lokal dan perusahaan teknologi untuk proyek komunitas yang melibatkan gotong royong, sebagaimana diusulkan oleh Khoo Salma Nasution dalam “Malay Architeture” (Didier Millet, 2018).

Kemudian ketiga, Kebijakan Pemerintah: Pemerintah Malaysia dapat menerapkan regulasi yang mewajibkan elemen Melayu dalam bagunan modern, seperti insentif pajak untuk proyek dengan menggabungkan arsitektur tradisional dengan teknologi hijau, seperti yang dibahas oleh Syed Hussein Alatas dalam “The Malays: Theuir Problems and Future” (Heinemann Asia,1977), sehingga mampu mendorong harmoni antara syarak dan adat.

Terakhir yaitu Inovasi Berkelanjutan: dorong arsitektur untuk mengadopsi bahan bio-degradable dan desain modular yang dapat disesuaikan, memastikan arsitekture Melayu tetap relevan tanpa kehilangan esensi Islam seperti kesederhanaan, seperti yang dianalisis oleh Ahmad Zaki Abdullah dalam The Evolution of Malay Vernacular Architecture in the Dotal Age (Journal of Southest Asian Studies, Volume 45, Issue 2,2020).

Kesimpulannya ialah perubahan adat melayu dalam arsitektur era digital menantang, namun dapat dikelola melalui pendekatan hibrida. Dengan menjaga nilai-nilai budaya seperti harmoni dan kesederhanaan, kita dapat menciptakan arsitektur yang tidak hanya modern tetapi juga bermakna, memperkuat identitas Melayu-Islam di tengah globalisasi, sebagaimana ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and Malay Adat: “A Study of Ritual and Values” (ABIM, 1995). Jika tidak diatasi, risiko hilangnya warisan budaya akan meningkat, sehingga solusi ini penting untuk berkelanjutan peradaban Melayu.

Penulis: Jimas Muamar

Editor: Ahmad Hafiizh Kudrawi

About Post Author

Ahmad Hafiizh Kudrawi

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kampanye “Penggunaan Internet di Usia Dini” Edukasi Siswa SD 158 Palembang tentang Internet Aman
Next post Wisuda ke-95 UIN Raden Fatah, Program Campus Hiring Jadi Sorotan