Read Time:2 Minute, 33 Second
Seorang pengemudi perahu ketek sedang duduk menunggu penumpang di pinggir Sungai Musi, Sabtu (17/01/2025). Ukhuwafoto/Kiranty Dwi Novitasari

Penulis: Kiranty Dwi Novitasari (Anggota Magang LPM Ukhuwah)

Palembang – Ukhuwahnews | Arus udara berhembus kala sore itu, di tepi sungai Musi, berjajar jukung dan ketek diiringi dengan suara bising dari pasar, muatan barang, hujan dan arus gelombang.

‎Tampak seorang lelaki berusia 54 Tahun berkulit kecoklatan, berteduh di bawah tenda warung dengan rintik hujan membasahi setengah tubuhnya.

‎Pengemudi perahu ketek itu bernama Muksin Saputra. Setiap hari ia mangkal di dermaga Sungai Musi dengan ketek miliknya, dan membayar biaya iuran dengan tarif Rp10 ribu.

“Di sini setoran perhari, gek ado yang keliling nageh,” katanya.

Baca juga: Dari Balik Layar Gebyar PIAUD 2025 : Kisah Guru TK yang Mengantar Mimpi Kecil Murid-Muridnya

‎Sudah hampir 30 tahun, Muksin menggantungkan hidup di atas air. Perubahannya terasa jelas, dulu meski mencari pekerjaan susah tetapi bahan pokok murah. Tapi sekarang mencari pekerjaan lebih mudah, namun kebutuhan sehari-hari membuat dahi kerap berkerut karena harga yang makin tinggi.

Pendapatannya perhari tak menentu, karena harus menunggu penumpang yang mau naik perahu ketek, serta tergantung cuaca di kota Pempek ini juga.

“‎Kadang sehari seratus ribu biso didapat, tapi dak nentuCak ini-kan ujan, penumpang dak dapet, ketek kelebu,” keluhnya sambil menunjuk ke arah perahu keteknya yang berlabuh di dermaga pada Sabtu (17/01/2026).

‎Penumpang sepi jika langit gelap, Kadang ia ingin mencari pekerjaan lain, namun Sungai Musi sudah terlanjur menjadi jalan hidupnya.

‎Bahan bakar menjadi pengeluaran wajib, perahu ketek memakan solar seharga delapan ribu rupiah per liter. Minimal persediaan solar lima liter dalam sehari untuk keperluan operasional.

“Kurang lebih 40 ribulah modal perhari untuk mamang balek pegi,” ucapnya.

‎Semua harus dihitung agar cukup untuk kebutuhan rumah. Untuk itu, ia menjemput nafkah dimulai sekitar pukul delapan pagi, pulang tergantung situasi penumpang.

“Paling cepet, jam limo lah balek. Kadang sesekali sampe malem kalo lagi ado penumpang yang nyatar,” cerita Muksin.

‎Perahu keteknya bermuatan sekitar 20 orang, namun demi keamanan ia memilih membawa hanya 15 orang, tergantung berat badan penumpang,

Tingkat keramaian penumpang biasanya saat setiap Cap Go Meh, pemasukan pun meningkat dari biasanya.

‎Kini, perahu ketek itu sudah berumur delapan tahun. Seperti manusia, kapal juga punya masa pakai. Ada yang lima tahun sudah harus ganti, tergantung bahan kayu, Muksin bilang Kayu meranti yang paling bagus.

Harga satu ketek sekarang sekitar 20 juta. Penggantian dilakukan tergantung pemakaian.

Ketek mamang nih la nemen ganti, ado kalu sudah limo kali. Kalo ado duet, ganti. Kalo katek, dipakso bertahan,” ungkapnya.

‎Setiap sore Muksin menutup hari, perahu ketek dibawa pulang ke 1 Ulu, rumahnya.

Hidupnya sederhana, pendapatan dari narik perahu ketek cukup untuk menjalani kebutuhan sehari-hari.

‎30 tahun berlalu, namun ia masih berdiri di dermaga yang sama, bersama suara mesin ketek, harga solar yang naik turun, dan langit Sungai Musi yang tak pernah bisa ditebak.

‎Tidak ada kepastian di air, kecuali satu yaitu besok ia akan kembali, selama ketek masih menyala, penumpang masih datang, hidup di Sungai Musi masih mungkin dijalani.

Editor: Nabilla Kartika Wiranti

About Post Author

Nabilla Kartika Wiranti

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Awali Pengabdian, Mahasiswa KKN Kelompok 65 dan 66 di Desa Tanjung Medang