Read Time:2 Minute, 49 Second
Doc/Ghompok Kolektif

Press Release Ghompok Kolektif

PALEMBANG – Ukhuwahnews | Ghompok Kolektif berpartisipasi dalam pameran Menjaga Api: Unjuk Rupa, Unjuk Rasa yang diselenggarakan pada 10 Desember 2026 di Kopi Lawas, Palembang. Dalam pameran ini, Ghompok menghadirkan arsip fotografi yang merekam peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan sepanjang 2015 hingga 2026.

Sebanyak delapan fotografer Ghompok Kolektif terlibat dalam pengarsipan visual tersebut, yakni Adam Rachman, Bagus Kurniawan, Humaidi Aditya, Kemas Prima, Nopri Ismi, M. Keysar, Prabu Rizki Sunda Riadi, dan Robby Arock. Foto-foto yang ditampilkan menjadi rekaman visual atas kebakaran lahan yang terus berulang di Sumatera Selatan selama lebih dari satu dekade.

Ahmad Rizki Prabu, anggota Ghompok Kolektif, mengatakan pengarsipan foto karhutla ini digagas sebagai upaya menjaga ingatan publik terhadap bencana ekologis yang terus berulang. Melalui arsip yang merentang dari 2015 hingga 2026, Ghompok ingin mengingatkan masyarakat bahwa karhutla bukan persoalan baru. Meski terjadi hampir setiap tahun, penyelesaian konkret untuk menghentikan kejadian serupa masih menjadi persoalan.

Melalui arsip tersebut, Ghompok Kolektif mengajak publik melihat kembali jejak kebakaran lahan dari tahun ke tahun, sekaligus mempertanyakan mengapa peristiwa yang sama terus berulang. Foto-foto itu tidak hanya menjadi dokumentasi masa lalu, tetapi juga catatan tentang dampak karhutla dan pengingat bahwa persoalan lingkungan ini belum tuntas.

Pemilihan arsip fotografi sebagai materi pameran merupakan upaya untuk membaca kembali bagaimana kebakaran lahan terus terjadi dari tahun ke tahun. Rentang dokumentasi tersebut menghubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi hari ini, sekaligus membuka ruang refleksi mengenai penanganan karhutla di Sumatera Selatan.

Selain arsip fotografi, pameran Menjaga Api: Unjuk Rupa, Unjuk Rasa juga menampilkan karya-karya Pebri Yansyah, seorang perupa yang menggunakan seni sebagai medium untuk menyuarakan keresahan terhadap persoalan lingkungan. Melalui karya-karyanya, Pebri membawa isu ekologis ke ruang publik, termasuk persoalan kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Mahasiswa Desak Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Sumsel

Salah satu karyanya adalah Presiden 2045, yang dibuat pada 2023. Karya tersebut berangkat dari keresahan Pebri terhadap persoalan lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Baginya, seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan kritik sekaligus membuka ruang percakapan mengenai kondisi lingkungan dan arah kebijakan publik.

“Awalnya karena keresahan soal isu lingkungan yang kian mengkhawatirkan,” ujar Pebri mengenai latar belakang karyanya.

Dalam praktik berkaryanya, Pebri memanfaatkan ruang publik sebagai medium untuk menyampaikan pesan ekologis kepada masyarakat. Intervensi visual yang ditempatkan di sejumlah titik kota menjadi cara untuk membawa isu lingkungan keluar dari ruang pameran dan mendekatkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Karya-karya Pebri juga mengangkat persoalan yang berkaitan dengan kebijakan publik, kepentingan industri ekstraktif, serta praktik pengelolaan lahan yang berisiko memperparah kerusakan lingkungan. Melalui pendekatan tersebut, seni tidak hanya hadir sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai bentuk kritik terhadap persoalan ekologis yang belum terselesaikan.

Pameran Menjaga Api: Unjuk Rupa, Unjuk Rasa menghadirkan beragam medium ekspresi, mulai dari fotografi, karya rupa, instalasi, hingga zine. Berbagai medium tersebut membuka ruang bagi seniman dan kolektif untuk menyampaikan gagasan, kegelisahan, serta respons terhadap persoalan lingkungan.

Kehadiran arsip fotografi Ghompok Kolektif dan karya-karya Pebri Yansyah mempertemukan dua pendekatan dalam membaca krisis ekologis. Fotografi merekam jejak kebakaran lahan dan dampaknya dari waktu ke waktu, sementara seni rupa menjadi medium untuk menyampaikan kritik serta mengajak publik mempertanyakan penyebab dan keberlanjutan persoalan tersebut.

Melalui pameran ini, ingatan tentang karhutla tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu. Arsip dan karya seni menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan masih berlangsung dan membutuhkan perhatian bersama.

About Post Author

Nabilla Kartika Wiranti

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Mahasiswa Desak Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Sumsel
Next post Koalisi Pers Sumsel Gelar Aksi Solidaritas, Desak Pengusutan Kekerasan terhadap Jurnalis