Read Time:2 Minute, 12 Second
Rohaya (68), menampakan padi di sawah miliknya. Sabtu, (15/11/2025). Ukhuwahfoto/Marshanda

PALI – Ukhuwahnews |Di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Desa Sedupi dikenal sebagai salah satu sentra pertanian yang masih bergantung pada pola tanam tradisional. Mayoritas warganya hidup dari sawah dan kebun karet, dan hingga kini aktivitas bertani tetap menjadi denyut utama ekonomi desa tersebut.

Pagi itu, Sabtu (15/11/2025), saya menyusuri tepian Desa Sedupi. Sinar matahari yang lembut menyentuh hamparan padi yang tertata rapi, menampilkan pemandangan hijau yang menenangkan. Tidak jauh berjalan, pandangan saya tertuju pada dua petani perempuan yang tengah bekerja di tengah sawah.

“Nak kemane itu?” teriak seseorang dari kejauhan saat saya melangkah memasuki persawahan tempat sebagian besar warga desa menggantungkan kebutuhan pangan keluarga.

Berjarak kurang lebih 300 meter dari pinggir jalan, akhirnya saya sampai di sawah Rohaya. Dengan rasa penasaran yang banyak, saya langsung menanyakan kapan panen padinya.

Baca Juga: Pempek di Tengah Riuh Negeri: Kisah dari Ulu Palembang

Rohaya menanam padi dua kali setahun. Tahun lalu, pada bulan Agustus, ia berhasil memanen 2,5 ton padi. Jika dihitung sepanjang tahun, hasil produksinya mencapai 5 ton.

“Kalau lah sudah tua, merasa rugi tidak bersawah. Enam bulan sekali panen, beras setidak nye tidak beli. Dapat ongkos juge,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun tak semua musim berjalan mulus. Hama sering kali menghabisi tanaman sebelum waktunya. “Padi yang mati itu banyak di makan hama. cuman pacak pasrah, sudah panen di garap lagi lahanye.” lanjutnya.

Tak jauh dari sawah Rohaya, Darmila juga menghabiskan hari-harinya dengan ritme yang sama. Di usianya yang hampir 67 tahun, ia masih semangat berawat sawah milik kakaknya.

Digagahke, kalau tidak diri kite. Dk Ade yang gawekenye. Tubuh nak makan bacak idk,
katanya dengan suara mantap.

Baca Juga: Pasar Cinde Jadi Surga Batu Cincin dengan Harga Beragam

Dari sawah inilah bisa menghidupkan anak-anak. Setidaknya untuk beras tidak beli lagi.

Kalu ade sawah, kan dak mahal beli beras,” ujarnya.

Ia masih ingat bagaimana sejak muda ia hidup dari tanah yang sama. Dan ia berharap generasi berikutnya tidak meninggalkan sawah.

Kalu ade anak, gek ajarin bersawah. Kite ni petang pagi nanak nasi inilah hidup.” katanya.

Pada akhirnya, kisah Rohaya dan Darmila bukan sekadar cerita dua perempuan lansia yang berkubang di lumpur sawah. Mereka adalah wajah dari keteguhan perempuan yang tetap berdiri ketika hidup berkali-kali menundukkan nya.

Sejak suami tak lagi ada di sisi, mereka tak punya kemewahan untuk berhenti. Setiap langkah di pematang adalah bukti bahwa seorang ibu akan melakukan apa pun agar dapur tetap mengepul, agar anak-anak bisa melanjutkan hidup, agar diri mereka sendiri tetap bertahan.

Reporter: Marshanda

Editor: Rhessya Maris

About Post Author

Rhessya Maris

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Hidup Petani di Sekitar PLTU Kian Terpuruk
Next post Mengenal Jejak Sultan Mahmud Badaruddin I di Kawah Tekureb, Cikal Bakal Sejarah Palembang