
Penulis: Rhessya maris (Pemimpin Redaksi)
Feature-Ukhuwahnews | Di tengah morat-maritnya persoalan demokrasi di Indonesia, kehidupan masyarakat tetap berjalan sebagaiman mestinya. Di Palembang, khususnya kawasan ulu, aktivitas warga terus berdenyut dengan pempek sebagai ciri khasnya. Olahan ikan yang menjadi ikon kuliner ini masih menjadi primadona bagi banyak orang yang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk keadaan negeri.
Pempek koyek, dapat menjadi opsi untuk menikmati pempek dengan cita rasa yang khas dan terjangkau. Kedai yang sudah berdiri selama kurang lebih 30 tahun ini, tak hanya menawarkan rasa yang konsisten tetapi juga menghadirkan suasana khas warung kampung. Mulai dari bangku kayu yang mulai kusam, aroma cuko yang pekat dan celoteh pembeli yang tak kunjung berhenti.
Baca juga: Menyusuri Warisan Tionghoa di Tepi Musi
Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan pempek di daput terbuka yang menjadi daya tarik tersendiri. Dari tangan-tangan peracik yang terampil dapat menjadi makanan yang sempat menempati posisi ke-4 dari 50 makanan seafood terenak di dunia.

Berlokasi di Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang. Dengan merogoh kocek sebesar Rp. 1000 untuk per satu pempek, pengunjung dapat menikmati kuliner ini setiap hari dari pukul 08:00 sampai 18:00 WIB.
Para pegawai dapur tampak sibuk dengan ritme kerja yang nyaris tidak berjeda. Kaos yang dipenuhi bercak tepung, tangan tanpa henti menguleni adonan, sementara wajah beradu dengan uap panas dari panci yang terus mengepul.
Sesekali terdengar bunyi spatula yang beradu dengan wajan, menambah riuh suasana dapur. Pengunjung seolah diajak merasakan setiap potongan pempek bukan hanya sekedar makanan, tetapi hasil kerja keras dan keterampilan para pekerja.
Prosesnya tampak sederhana tapi menyimpan daya magis, aroma khas ikan yang merebak, bunyi gemercik minyak panas, hingga percakapan yang tercipta menambah keintiman suasana. Pengalaman menyantap pempek menjadi lengkap setelah melihat sendiri bagaimana makanan itu lahir dari dapur.

Selain pempek koyek, banyak kedai lain yang bisa dikunjungi. Setiap kedai memiliki keunikan tersendiri, mulai dari cita rasa cuko yang berbeda-beda hingga cara pernyajian yang khas.
Tidak hanya soal makanan, pengunjung juga bisa menyaksikan aktivitas lain, seperti proses pengolahan daging ikan segar yang nanti menjadi bahan utama pempek, atau sekedar menikmati pemandangan orang-orang yang memancing di tepi sungai Musi.
Gambaran ini memperlihatkan betapa erat hubungan masyarakat dengan sungai dan hasil laut, dimana kegiatan sehari-hari, kuliner hingga tradisi berpadu menjadi satu lanskap kehidupan yang utuh. Bagi wisatawan, pengalaman ini bukan hanya sekedar mencicipi pempek, melainkan istrahat sembari menyelami denyut nadi Palembang dari dekat.
Editor: Ahmad Hafiizh Kudrawi
About Post Author
Ahmad Hafiizh Kudrawi
More Stories
Ribuan Pengunjung Padati Pulau Kemaro, Aparat Pastikan Perayaan Aman
Penulis: Jimas Muamar (Pengurus LPM Ukhuwah) Palembang - Ukhuwahnews | Lampion merah bergantungan, memancarkan cahaya hangat di tengah gelap malam...
Tradisi Bubur Suro, Warnai Ramadhan di Masjid Al-Mahmudiyah Suro
[caption id="attachment_5584" align="aligncenter" width="1280"] Para jemaah sedang menunggu waktu buka puasa di Masjid Al-Mahmudiyah Suro. Ukhuwahfoto/Jimas Muamar[/caption] Penulis: Jimas Muamar...
Dari Kebun Nanas, Ketahanan Ekonomi Desa Tanjung Medang Terjaga
[caption id="attachment_5177" align="aligncenter" width="1280"] Pemandangan kebun nanas yang baru saja ditanam dan diberi pupuk, di Desa Tanjung Medang, Sabtu (17/01/2026)....
30 Tahun Menyandarkan Hidup pada Perahu Ketek
[caption id="attachment_5170" align="aligncenter" width="1280"] Seorang pengemudi perahu ketek sedang duduk menunggu penumpang di pinggir Sungai Musi, Sabtu (17/01/2025). Ukhuwahfoto/Kiranty Dwi...
Dari Balik Layar Gebyar PIAUD 2025 : Kisah Guru TK yang Mengantar Mimpi Kecil Murid-Muridnya
[caption id="attachment_4986" align="aligncenter" width="1280"] Potret Aulia Hanum menjadi peserta lomba mewarnai Gebyar PIAUD 2025 di gedung Academic Center UIN Raden...
Dari Jaring ke Cangkul: Perjalanan Hidup Nelayan yang Beralih Menjadi Petani
[caption id="attachment_4965" align="aligncenter" width="2560"] Dretan rumah beratap merah berjajar di tepi aliran sungai, Dikelilingi sawah hijau di Kabupaten Penukal Abab...

Average Rating