
Artikel – Ukhuwahnews | Sebagian besar orang tua mungkin pernah mendengar mitos bahwa anak kedua lebih sering terlibat masalah dibandingkan anak pertama atau anak terakhir.
Meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi perilaku anak, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak kedua memang lebih sering menghadapi tantangan dalam hal perilaku dan penyesuaian sosial.
1. Penyebab Anak Kedua Cenderung Membuat Masalah
Studi yang dilakukan oleh para psikolog menunjukkan bahwa kelahiran anak kedua dapat membawa perubahan dinamis dalam keluarga yang mempengaruhi perkembangan anak.
Beberapa alasan yang sering disebutkan terkait perilaku bermasalah pada anak kedua adalah perubahan peran orang tua, tuntutan sosial, serta kepribadian dan dinamika keluarga.
Peran orang tua yang berubah ini terjadi ketika anak pertama lahir. Orang tua umumnya memberikan perhatian penuh kepada Si Sulung namun, dengan kelahiran anak kedua. Pada kondisi ini perhatian terbagi, dan anak kedua mungkin merasa kurang diperhatikan atau mendapat pengasuhan yang kurang optimal.
Baca juga: Pilar Pendidikan Tanpa Tunjangan Kinerja
Yang kedua, tuntutan sosial. Anak kedua sering kali merasa harus bersaing dengan anak pertama yang lebih tua atau lebih diharapkan. Hal ini dapat menciptakan tekanan bagi anak kedua untuk menonjolkan diri, yang terkadang memunculkan perilaku menyimpang atau mencari perhatian yang berlebihan.
Terakhir, kepribadian dan dinamika keluarga. Kepribadian anak juga memainkan peran besar. Anak pertama sering kali lebih patuh dan terstruktur, sementara anak kedua, lebih cenderung untuk melawan norma atau berperilaku lebih bebas untuk mencari identitas diri mereka.
2. Studi Berdasarkan Data Negara
Beberapa negara telah melakukan studi untuk menganalisis apakah benar anak kedua lebih sering membuat masalah. Meskipun data yang ada tidak sepenuhnya seragam, beberapa temuan menarik muncul dari berbagai tempat, seperti di Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia.
Studi di Amerika Serikat. Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Minnesota dan Universitas Texas menunjukkan bahwa anak kedua, khususnya pada keluarga dengan lebih dari satu anak, cenderung menunjukkan perilaku yang lebih sulit diatur.
Seperti masalah disiplin, perkelahian dengan saudara kandung, atau kecenderungan untuk berperilaku lebih impulsif. Penelitian ini menemukan bahwa anak kedua sering merasa terabaikan, yang membuat mereka berusaha menarik perhatian dengan cara yang berbeda.
Lalu, ada Data dari Inggris. Di Inggris, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oxford menemukan bahwa anak kedua lebih sering menghadapi masalah di sekolah, baik dalam hal perilaku maupun prestasi akademis.
Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa anak kedua mungkin memiliki ekspektasi sosial dan akademis yang lebih rendah dibandingkan anak pertama, sehingga mereka merasa lebih bebas untuk berperilaku non-konformis atau mencari cara untuk “mendapat perhatian” yang lebih besar.
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh beberapa universitas juga menunjukkan bahwa anak kedua lebih sering menunjukkan perilaku yang mengarah pada pemberontakan atau kecenderungan untuk berinteraksi dengan kelompok pergaulan yang mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga.
Namun, anak kedua juga sering kali memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik karena mereka belajar banyak dari saudara pertama.
3. Apakah Semua Anak Kedua Bermasalah?
Meskipun ada kecenderungan bahwa anak kedua lebih sering menghadapi tantangan, ini tidak berarti bahwa semua anak kedua akan menunjukkan perilaku bermasalah. Setiap anak memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, pendidikan, dan peran orang tua.
Beberapa anak kedua dapat berkembang dengan sangat baik, menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan saudara serta teman-teman mereka dengan cara yang positif.
Orang tua yang memberikan perhatian yang seimbang, mendengarkan kebutuhan emosional anak, dan memberikan arahan yang bijaksana dapat mengurangi kemungkinan anak kedua menunjukkan perilaku yang bersifat Permanen.
Sebagai orang tua, penting untuk menjaga hubungan yang sehat dengan semua anak. Selain itu, memberikan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan emosional mereka, dan terus memberikan arahan yang mendukung pertumbuhan positif mereka.
Penulis: Rani Dwi Oktafidiya
Editor: Annisaa Syafriani
More Stories
Mahasiswa KKN Gelar Seminar Digitalisasi UMKM Menjadi Langkah Strategis Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Cambai
[caption id="attachment_6059" align="aligncenter" width="2560"] Dok/Mahasiswa KKN Kelompol 1, Kelurahan Cambai[/caption] Prabumulih – Ukhuwahnews | Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan...
Mahasiswa KKN UIN RF Kenalkan Pestisida Alami kepada Masyarakat Prabumulih
[caption id="attachment_6052" align="aligncenter" width="1280"] Doc/Mahasiswa KKN Kelompok 24, Kelurahan Sukaraja[/caption] Prabumulih – Ukhuwahnews | Daun pepaya yang selama ini lebih...
Bentengi Remaja dari Pernikahan Dini, Mahasiswa KKN UIN RF Edukasi Siswa SMP Tunas Bakti
[caption id="attachment_6043" align="aligncenter" width="483"] Doc/Mahasiswa KKN Kelompok 24, Kelurahan Sukaraja[/caption] Prabumulih – Ukhuwahnews | Upaya mencegah pernikahan dini di kalangan...
Mahasiswa PPL UIN RF Fakultas Ushuluddin Siap Sukseskan Musda XI MUI Sumsel 2026
[caption id="attachment_6004" align="aligncenter" width="1201"] Doc/PPL UIN RF Fakultas Ushuluddin[/caption] Palembang — Ukhuwahnews | Sejumlah mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari...
Pernikahan Dini: Ketika Masa Depan Anak Dipertaruhkan oleh Tekanan Sosial
[caption id="attachment_5975" align="aligncenter" width="1448"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita periode 2026) Artikel – Ukhuwahnews | Pernikahan dini adalah...
Tinggal di Asrama: Antara Adaptasi, Culture Shock, dan Keterbatasan Fasilitas
[caption id="attachment_5940" align="alignnone" width="1600"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Nia Purnamasari Palembang - Ukhuwahnews |Tinggal di asrama bisa menjadi pilihan yang baik,...

Average Rating