Read Time:3 Minute, 42 Second
Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla

Penulis: Nia Purnamasari

Palembang – Ukhuwahnews |Tinggal di asrama bisa menjadi pilihan yang baik, terutama bagi mahasiswa perantau yang menempuh pendidikan di luar daerah asal. Selain biaya yang relatif terjangkau, lokasi yang dekat dengan kampus serta suasana yang mendukung kegiatan akademik dapat mempermudah proses perkuliahan.

‎Di sejumlah perguruan tinggi, hunian kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter. Kehidupan bersama mendorong mahasiswa untuk belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menjalin hubungan dengan orang lain yang memiliki latar belakang berbeda.

‎Meski menawarkan berbagai keuntungan, kehidupan di asrma dapat menuntut kesiapan untuk menghadapi budaya, kebiasaan, dan aturan yang belum tentu sama dengan yang selama ini dijalani. Proses penyesuaian diri ini sering kali tidak mudah. Beragam individu dengan karakter yang berbeda harus hidup dalam satu ruang sosial yang sama. Akibatnya, sebagian mahasiswa mengalami kesulitan menyesuaikan diri hingga merasakan culture shock.

‎Dikutip dari Ciputra.ac.id, culture shock adalah perasaan disorientasi, bingung, atau cemas yang dialami seseorang ketika berada di tempat dengan budaya, nilai, norma, dan cara hidup yang berbeda dari yang biasa mereka kenal.

‎Fenomena tersebut merupakan respons psikologis dan emosional yang wajar. Kondisi ini bukanlah penyakit atau tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses penyesuaian ketika seseorang memasuki situasi yang benar-benar baru.

‎Karena itu, memahami berbagai bentuk culture shock menjadi hal penting sebelum memutuskan menempati hunian terutama asrama kampus. Pengetahuan ini dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul.

1. Perbedaan Kebiasaan dan Terbatasnya Privasi

‎Setiap mahasiswa membawa kebiasaan, karakter, dan pola hidup yang berbeda. Menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan tersebut bukanlah perkara mudah, terutama jika belum terbangun sikap saling memahami dan menghargai.

‎Perbedaan jam tidur, cara menjaga kebersihan, metode belajar, hingga rutinitas sehari-hari kerap memicu gesekan kecil. Tidak jarang seseorang menemukan kebiasaan teman sekamar yang bertolak belakang dengan nilai atau rutinitas yang selama ini dianut sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

‎Selain itu, kehidupan bersama mengharuskan seseorang berbagi ruang dengan orang lain. Tidak ada lagi privasi yang sepenuhnya dimiliki seperti saat berada di rumah. Bagi sebagian orang, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan waktu untuk membiasakan diri hidup berdampingan dalam ruang yang terbatas.

‎2. Keterbatasan Fasilitas

‎Biaya sewa yang relatif murah menjadi salah satu alasan utama banyak mahasiswa perantau memilih hunian kampus. Dengan biaya tersebut, penghuni tentu berharap memperoleh fasilitas yang memadai, mulai dari kamar yang nyaman, keamanan yang baik, hingga ketersediaan air bersih.

‎Namun, harapan tersebut tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Di beberapa tempat, penghuni masih menghadapi berbagai kendala seperti cat dinding yang mengelupas, sirkulasi udara yang kurang baik, minimnya kipas angin, hingga pasokan air yang terbatas.

‎Padahal, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga beribadah, semuanya membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Ketika jumlah penghuni tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia, antrean panjang menjadi pemandangan yang sulit dihindari.

‎Situasi tersebut menuntut kesabaran sekaligus kemampuan mengatur waktu agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi.

‎3. Peraturan yang Ketat dan Berkurangnya Waktu Istirahat

‎Umumnya, setiap hunian mahasiswa memiliki aturan yang wajib dipatuhi oleh seluruh penghuni. Ketentuan tersebut mencakup jam malam, batasan menerima tamu, hingga kewajiban mengikuti program yang telah ditetapkan pengelola.

‎Bagi sebagian orang, aturan tersebut dapat terasa membatasi ruang gerak. Di satu sisi, mereka harus menyelesaikan tugas kuliah dan mengikuti jadwal akademik yang padat. Di sisi lain, terdapat kewajiban tambahan yang harus dijalankan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

‎Akibatnya, waktu untuk beristirahat menjadi semakin berkurang. Jika tidak mampu mengelola aktivitas dengan baik, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan tidur atau insomnia.

‎Dikutip dari Alodokter.com, insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu dini dan sulit kembali terlelap. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik, mental, serta kemampuan berkonsentrasi saat belajar.


‎Menempati hunian kampus dapat menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka yang siap menghadapi perubahan. Selain perlu menyesuaikan diri dengan aturan dan berbagai karakter yang ditemui, penghuni juga harus siap menghadapi keterbatasan yang mungkin ada.

‎Kenyamanan sebuah tempat tinggal memang dipengaruhi oleh sarana yang tersedia. Namun, kemampuan menghargai perbedaan, membangun hubungan sosial yang sehat, dan menyesuaikan diri dengan situasi baru juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

‎Perlu dipahami bahwa setiap asrama memiliki aturan, fasilitas, serta sistem pengelolaan yang berbeda. Oleh karena itu, keputusan untuk menetap di sana atau memilih tempat tinggal lain tetap bergantung pada kebutuhan dan pertimbangan masing-masing individu.

Editor: Jimas Muamar

About Post Author

Nia Purnamasari

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Piring Kosong Birokrasi atau Rekayasa Sosial?
Next post Menonton “Ban Berjalan” di Ruang Sidang: Potret Kejar Tayang Keadilan Pidana