
Palembang – Ukhuwahnews |Komunitas Solidaritas Perempuan Palembang turut menyuarakan lahan yang direnggut dalam perayaan Internasional Women’s Day (IWD) melalui diskusi publik bertemakan ‘Petani dan Feminisme Popular’ di Rumah Sintas Palembang pada Sabtu (08/03/2025).
Petani di Seri Bandung, Ogan Ilir (OI) Sumatera Selatan (Sumsel) kini tengah berjuang melawan dan menyuarakan mengenai lahan mereka yang telah direnggut sejak 40 tahun lalu oleh Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) 7 Palembang.
Seorang petani, Zubaidah menyuarakan mengenai perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat di desa Seri Bandung, OI.
“Dulu hidup kami sukses karena banyak lahan, sekarang lahan kami habis dibuat lahan tebu, oleh karena itu kami melarat,” ungkapnya ketika diskusi publik.
Baca juga: Pemantauan Hilal Tak Terlihat di Palembang
Zubaidah mengatakan bahwa dulunya masyarakat di sana bisa mandiri, tapi sekarang mereka kehilangan pekerjaannya karena sudah tidak ada lagi yang dapat dikelola.
“Kami sekarang tidak ada pekerjaan, melarat jadi orang miskin. Dulu sayur mayur tanam sendiri, sekarang serba beli,” ungkapnya.
Kemudian, ia menjelaskan dampak lain dari lahan tebu tersebut juga mengganggu keseharian.
“Kalau sudah musim panen, timbul penyakit dari tebu yang terbakar, debunya terhirup, debu hitam masuk rumah bahkan sampai ke air dalam bak mandi juga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Zubaidah menambahkan ungkapan keresahan terkait lingkungan di desanya yang sudah berubah itu.
“Bahkan mencari ikan di batang hari pun sudah susah karena racun dari tebu,” tambahnya.
Petani perempuan di sana tentu tidak hanya berdiam diri saja selama ini, mereka telah melakukan berbagai upaya untuk berjuang melewati masa kesulitannya.
“Kami buat gas dari kotoran sapi lalu tidak berhasil, lalu nanam bawang di samping rumah karena sudah tidak ada lahan lagi, terus kami juga buat pupuk kompos yang berakhir gagal juga. Sekarang yang berhasil dan bertahan adalah keripik ubi umak,” ujarnya.
Hingga saat ini petani di sana masih menunggu kejelasan dari PTPN 7 Palembang terkait lahan mereka yang telah lama diambil.
“Sudah didatangi ke PT, sudah dikasih surat tanah asli tapi ternyata uang bayarannya tidak muncul,” ucapnya.
Di akhir, ia mengungkapkan harapannya terkait permasalahan lahan ini.
“Pokoknya kami hanya minta kepada pemerintah untuk mengembalikan tanah kami, mungkin di masa depan anak cucuku bisa hidup enak,” tutupnya.
Menanggapi persoalan ini, perwakilan Majelis Nasional Serikat Petani Indonesia, Polong turut memberikan komentar.
“Kalau tanahnya diambil, sama saja kita merenggut hidupnya. Terkadang orang yang merencanakan pembangunan pertanian di pedesaan tidak memahami apa problem mendasar yang sebenarnya dibutuhkan oleh petani,” sambatnya saat diskusi publik.
Acara dimulai dengan longmarch dari Kambang Iwak (KI) ke Rumah Sintas, dilanjutkan diskusi publik dan ditutup dengan pertunjukan panggung seni rakyat.
Reporter: Nabilla Kartika Wiranti
Editor: Annisaa Syafriani
About Post Author
Annisaa Syafriani
More Stories
Cap Go Meh: Momen Pedagang Meraup Rezeki
[caption id="attachment_5612" align="alignleft" width="1920"] Potret Efendi seorang pedang penjual mainan di Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro, pada Sabtu...
Malam Terakhir Menuju Puncak Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro
[caption id="attachment_5608" align="alignnone" width="1500"] Panitia penjaga sumbangan dan kertas doa perayaan Cap Go Meh di kelenteng Hok Jing Rio Pulau...
Komunitas Barongsai Tiang En Meriahkan Cap Go Meh 2577 Kongzili di Pulau Kemaro
[caption id="attachment_5597" align="aligncenter" width="1920"] Atraksi Barongsai memeriahkan perayaan Cap Go Meh di kawasan Pulau Kemaro, Palembang, Sabtu (01/02/2025). Ukhuwahfoto/Muhammad Alvan...
Di Tengah Ragam Menu Berbuka, Bubur Suro Tetap Jadi Warisan yang Dijaga
[caption id="attachment_5568" align="alignnone" width="821"] Juru masak M. Rizal sedang mengemas Bubur Suro yang berlokasi di Jalan Ki Gede Ing Suro,...
Persiapan Masjid Agung Palembang Jelang Bulan Suci Ramadhan 1447H
[caption id="attachment_5548" align="alignnone" width="1600"] Tampak depan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikromo, Palembang, Rabu (18/02/2026).Ukhuwahfoto/Tanya Zalzalbilla[/caption] Palembang - Ukhuwahnews |...
Komunitas Benah Palembang: Tebar Kepedulian Sosial Lewat Berbagi
[caption id="attachment_5520" align="alignnone" width="1280"] Warga tampak antusias mengikuti pembukaan Ruang Bebas Rupiah di Lapangan Rumah Susun, Palembang, Minggu (15/02/2026). Ukhuwahfoto/Anisa[/caption]...

Average Rating