Read Time:3 Minute, 16 Second
Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla

Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita periode 2026)

Resep – Ukhuwahnews | Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, masyarakat Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tetap mempertahankan salah satu warisan kuliner yang telah menjadi identitas daerah, yakni  ‘Pindang Pegagan’. Hidangan tradisional ini tidak hanya menawarkan cita rasa yang khas, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya masyarakat Suku Pegagan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pindang Pegagan merupakan salah satu varian pindang khas Ogan Ilir yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pindang dari daerah lainnya. Jika sebagian jenis pindang menggunakan proses menumis bumbu terlebih dahulu, masyarakat Pegagan justru mempertahankan teknik memasak tradisional dengan merebus seluruh bumbu secara langsung. Cara memasak tersebut menghasilkan kuah yang lebih bening, segar, serta mempertahankan aroma alami dari rempah-rempah yang digunakan.

Ikan patin menjadi bahan utama dalam sajian ini. Daging ikan yang lembut dipadukan dengan perpaduan rasa pedas dari cabai, asam dari asam jawa dan nanas, gurih dari terasi, serta sedikit rasa manis dari gula merah. Kombinasi tersebut menghasilkan keseimbangan rasa yang menjadi ciri khas Pindang Pegagan. Selain dikenal sebagai hidangan keluarga sehari-hari, pindang ini juga sering disajikan dalam acara adat, kenduri, maupun penyambutan tamu sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang.

Baca Juga: Olahan Buah Kepayang Beracun Jadi Hidangan Tradisional

Bahan-bahan Pindang Pegagan Khas Ogan Ilir.

Bahan Utama

1 ekor ikan patin (±800 gram–1 kilogram), dibersihkan lalu dipotong-potong.

1 liter air.

Bumbu Halus

7 siung bawang merah.

4 siung bawang putih.

15 buah cabai merah.

5 buah cabai rawit.

Bumbu Pelengkap

2 batang serai, dimemarkan.

½ sendok makan terasi.

½ sendok makan asam jawa, dilarutkan dengan sedikit air lalu disaring.

½ sendok makan gula merah, disisir halus.

½ buah nanas kecil, dipotong-potong.

½ sendok teh garam.

½ sendok teh gula pasir.

½ sendok teh kaldu bubuk.

Bahan Pelengkap Akhir

2 batang daun bawang, diiris kasar.

2 buah tomat, dipotong-potong.

Daun kemangi secukupnya.

Cara Pembuatan

Proses pembuatan Pindang Pegagan diawali dengan menghaluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai rawit menggunakan cobek atau blender hingga halus. Sementara itu, asam jawa diremas menggunakan sedikit air, kemudian disaring untuk diambil air perasannya.

Selanjutnya, didihkan satu liter air di dalam panci. Setelah air mendidih, masukkan bumbu halus bersama serai, terasi, gula merah, gula pasir, garam, kaldu bubuk, dan air perasan asam jawa. Aduk hingga seluruh bumbu tercampur rata dan mengeluarkan aroma harum khas rempah.

Masukkan potongan nanas ke dalam kuah, lalu masak beberapa menit hingga rasa asam manisnya menyatu dengan kuah. Setelah itu, lakukan koreksi rasa agar perpaduan rasa pedas, asam, gurih, dan manis menjadi seimbang.

Apabila kuah telah sesuai selera, masukkan potongan ikan patin secara perlahan. Masak dengan api sedang hingga ikan matang sempurna. Hindari mengaduk terlalu sering agar daging ikan tidak hancur.

Sebagai tahap akhir, tambahkan irisan daun bawang, potongan tomat, dan daun kemangi. Masak sekitar satu menit hingga daun kemangi layu dan aroma segarnya keluar, kemudian angkat dan sajikan selagi hangat bersama nasi putih.

Menurut sejumlah pegiat kuliner Sumatera Selatan, keistimewaan Pindang Pegagan terletak pada keseimbangan rasa dan teknik memasaknya yang masih mempertahankan tradisi masyarakat setempat. Tidak menggunakan santan maupun proses menumis membuat kuahnya terasa lebih ringan, segar, dan kaya akan cita rasa rempah.

Bagi masyarakat Ogan Ilir, ’Pindang Pegagan’ bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Hidangan ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang dekat dengan sungai serta memanfaatkan hasil perikanan air tawar sebagai sumber pangan utama. Keberadaan ikan patin yang melimpah di wilayah Sumatera Selatan turut menjadikan hidangan ini sebagai salah satu menu khas yang mudah ditemukan di rumah-rumah masyarakat maupun rumah makan tradisional.

Di tengah berkembangnya wisata kuliner di Sumatera Selatan, ‘Pindang Pegagan’ semakin dikenal sebagai salah satu ikon gastronomi Ogan Ilir. Melalui pelestarian resep dan teknik memasak tradisional, masyarakat berharap kuliner khas ini terus lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang maupun wisatawan yang ingin mengenal kekayaan cita rasa Bumi Sriwijaya.

‎Editor: Nabilla Kartika Wiranti

About Post Author

Jimas Muamar

Jimas Muamar merupakan mahasiswa Program Studi Jurnalistik di UIN Raden Fatah Palembang. Ia aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan menulis, peliputan, dan analisis media. Dengan minat yang kuat pada dunia jurnalistik, Jimas berkomitmen menghasilkan karya yang informatif, kritis, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Peaky Blinders: Di Balik Topi, Ambisi, dan Luka Perang yang Tak Pernah Sembuh
Next post Pernikahan Dini: Ketika Masa Depan Anak Dipertaruhkan oleh Tekanan Sosial