Read Time:2 Minute, 3 Second
Potret Efendi seorang pedang penjual mainan di Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro, pada Sabtu (28/02/2026). Ukhuwahfoto/Jimas Muamar

Palembang – Ukhuwahnews | Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro pada Sabtu (28/02/2026) tidak hanya menjadi ajang hiburan dan perayaan budaya, tetapi momentum mencari rezeki bagi pedagang kaki lima. Sejumlah pedagang membuka lapak di sepanjang area perayaan, menawarkan beragam dagangan kepada pengunjung yang memadati lokasi.

Salah satu pedagang, Muhamad Muslim, mengaku menjual berbagai jenis hewan peliharaan, seperti kelinci, hamster, dan ikan hias. Ia menyebutkan harga yang ditawarkan bervariasi, menyesuaikan jenis dan ukuran hewan.

“Ada tiga macam, kelinci Rp100.000 per ekor, hamster Rp25.000. Serta ikan dengan harga beragam mulai dari Rp10.000 sampai Rp20.000,” jelasnya.

Baca juga: Malam Terakhir Sebelum Puncak Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro

Menurut Muslim, pendapatan yang diperoleh selama perayaan tidak menentu. Dalam satu malam, ia bisa meraup omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. Bahkan, ketika pengunjung membludak, penghasilannya dapat mencapai Rp1 juta.

“Hasilnya tidak tentu, kadang Rp500 ribu, kadang Rp600 ribu per malam. Kalau ramai, bisa sampai Rp1 juta,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengungkapkan harus mengeluarkan biaya sewa lapak selama perayaan berlangsung. Baginya, biaya tersebut cukup memberatkan, terutama jika jumlah pembeli tidak sesuai harapan.

“Kami menyewa lapak bayar sekitar Rp200 ribu selama perayaan. Kadang tidak sesuai dengan ramainya pembeli,” ucapnya.

Muslim berharap ke depan panitia atau pihak terkait dapat menyediakan tempat khusus bagi pedagang kecil dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Kami sebagai pedagang kecil berharap biaya tempat jangan terlalu mahal. Kami tidak sanggup bayar seperti yang pakai tenda. Harapannya ada tempat khusus untuk pedagang kecil seperti kami, dengan biaya yang lebih terjangkau,” harapnya.

Hal senada juga dirasakan Efendi, pedagang mainan yang berjualan di lokasi yang sama. Ia mengaku penghasilannya justru lebih kecil dibandingkan pedagang lain.

“Saya jualan dengan modal Rp300 sampai Rp500 ribu lalu saya setorkan. Keuntungan bersih sekitar Rp100 ribu,” katanya.

Efendi menuturkan, keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional dan sewa tempat yang harus dibayarkan. Ia pun berharap ada kebijakan yang mempertimbangkan kondisi pedagang kecil.

“Sebagai pedagang kecil saya berharap biaya sewa tergantung ramainya pembeli,” tutupnya.

Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro setiap tahunnya memang menjadi daya tarik wisata budaya di Kota Palembang. Namun di balik semaraknya perayaan, para pedagang kecil masih berharap adanya perhatian lebih agar roda ekonomi mereka tetap berputar tanpa terbebani biaya yang tinggi.

Reporter: Maharani

Editor: Jimas Muamar

 

 

About Post Author

Maharani

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Malam Terakhir Menuju Puncak Perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro
Next post Ribuan Pengunjung Padati Pulau Kemaro, Aparat Pastikan Perayaan Aman