Read Time:5 Minute, 11 Second
Doc/Kelompok 2 KTIP Mahasiswa Universitas Sriwijaya

Artikel – Ukhuwahnews | Perkembangan pesat teknologi belakangan ini telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara anak-anak masa kini menghabiskan waktu luang mereka. Saat ini, layar ponsel pintar, deretan gim digital yang memanjakan mata, dan ragam video daring sering kali menjadi opsi serta daya tarik utama hiburan anak.

Di tengah pergeseran pola bermain ini, posisi permainan tradisional seperti congklak, engklek, gobak sodor, hingga lompat tali seolah kian bergeser ke pinggir dan jarang ditemukan di halaman rumah atau lapangan sekolah. Tentu saja, fenomena ini tidak serta-merta mengartikan bahwa semua anak telah meninggalkan permainan masa lalu sepenuhnya. Namun, kondisi ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: apakah permainan tradisional masih relevan untuk dipertahankan dan mampu mendukung perkembangan anak sekolah dasar (SD) di era pendidikan yang serba modern?

Sekolah dan lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam memfasilitasi kesempatan bermain yang beragam bagi anak. Sebuah publikasi resmi dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) 2022 bertajuk Towards a World of Play and Connection menegaskan bahwa aktivitas bermain bagi anak bukan sekadar sarana membuang waktu. Bermain merupakan cara paling natural bagi mereka untuk belajar, merespons tantangan, membangun ketangguhan mental, dan memproses berbagai pengalaman di dunia sekitarnya.

Oleh karena itu, memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk merasakan ragam pengalaman bermain secara langsung bukan hanya secara virtual menjadi sebuah keharusan. Sering kali, masyarakat memandang permainan tradisional sekadar sebagai aktivitas lawas pengisi waktu luang. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, permainan tradisional sejatinya sarat akan aturan main yang mengikat, tujuan pencapaian yang jelas, interaksi sosial, serta tantangan yang mampu memberikan pengalaman belajar yang autentik.

Ambil contoh permainan congklak. Permainan papan ini tidak hanya menghibur, tetapi merangsang kepekaan anak terhadap konsep bilangan, melatih kecepatan berhitung, serta menuntut kemampuan menyusun strategi agar lumbung sendiri bisa lebih penuh dibandingkan milik lawan. Sementara itu, aktivitas yang dinamis seperti gobak sodor merupakan medium luar biasa untuk melatih komunikasi lisan, merancang taktik pertahanan kelompok, serta memupuk kerja sama antarpemain.

Di sisi lain, engklek yang mengharuskan pemainnya melompat dari satu bidang ke bidang lain dengan bertumpu pada satu kaki, sangat bermanfaat untuk melatih keseimbangan, koordinasi gerak tubuh, dan menanamkan ketekunan dalam menyelesaikan tahapan main. Melalui aktivitas-aktivitas tanpa gawai inilah keterampilan fundamental anak dibentuk. Secara lebih terperinci, manfaat permainan tradisional bagi perkembangan anak SD dapat dikelompokkan ke dalam tiga aspek utama.

Pertama, aspek perkembangan sosial dan pembentukan karakter. Ketika bermain di ruang terbuka secara kolektif, anak-anak belajar untuk menghormati aturan, bersabar menunggu giliran, bergotong royong, bersikap sportif, hingga belajar mengelola emosi dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan. Sebuah studi oleh Ayu Nazila (2025) dalam Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JKIP) menekankan bahwa integrasi permainan tradisional ke dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SD memberikan makna yang sangat krusial bagi pembentukan karakter positif siswa.

Baca Juga: Mahasiswa KKN Gelar Seminar Digitalisasi UMKM Menjadi Langkah Strategis Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Cambai

Argumen ini senada dengan temuan Nevitaningrum dkk. (2023) dalam Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, yang membuktikan bahwa pendidikan jasmani berbasis permainan tradisional amat potensial dalam mencetak peserta didik yang berkarakter luhur. Kedua, aspek perkembangan fisik dan motorik anak. Tinjauan literatur sistematis yang diterbitkan oleh Siswanto dkk. Dalam Jurnal Patriot (2022) mengonfirmasi bahwa permainan tradisional yang banyak melibatkan gerakan berlari, melompat, dan menghindar memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kemampuan motorik dan kebugaran jasmani siswa dasar. Hal ini bisa menjadi penawar bagi gaya hidup kurang gerak akibat terlalu lama duduk di depan layar.

Ketiga, aspek perkembangan kognitif. Permainan yang mengharuskan penyusunan taktik dan prediksi langkah lawan otomatis akan mendorong otak anak untuk mengambil keputusan dengan cepat serta memecahkan masalah dalam situasi yang serba dinamis. Tentu saja, seberapa besar manfaat ini diserap sangat bergantung pada seberapa sering mereka berpartisipasi dan bagaimana kualitas pendampingan dari para guru. Lantas, mengapa permainan warisan budaya ini perlu mendapatkan panggung dalam skema pendidikan modern?

Konsep pendidikan masa kini menyadari bahwa pembelajaran bermakna tidak harus melulu berlangsung kaku di balik meja atau terpaku pada layar proyektor. Permainan tradisional dapat menjadi kegiatan pendukung yang inovatif, baik sebagai variasi aktivitas dalam PJOK, bagian dari pembelajaran kontekstual lintas mata pelajaran, maupun basis aktivitas luar kelas. Laporan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2026 mengenai kegiatan Main Raya Anak Nusantara bahkan menyoroti bahwa perpaduan permainan tradisional dan unsur sains faktanya terbukti ampuh dalam menghidupkan iklim ‘pembelajaran mendalam’ yang menyenangkan bagi anak.

Penting untuk ditegaskan bahwa menghidupkan kembali permainan tradisional bukan berarti mempertentangkannya dengan kemajuan media digital. Keduanya dapat hadir secara berdampingan dan saling melengkapi. Memang, penerapannya masa kini berhadapan dengan beragam tantangan, mulai dari keterbatasan waktu kurikulum, menyempitnya lahan bermain, jaminan keselamatan anak, hingga tingkat pemahaman guru mengenai aturan permainan lokal. Namun, visi utamanya bukanlah memaksa pendidikan mundur ke cara lama sepenuhnya, melainkan memperkaya menu pengalaman belajar yang relevan dan dibutuhkan anak zaman sekarang.

Sebagai solusi aplikatif di lingkungan sekolah, guru dapat mulai mengintegrasikan permainan yang relevan dengan capaian belajar, misalnya memanfaatkan biji congklak sebagai alat peraga berhitung matematika, atau menggunakan estafet bakiak untuk mempraktikkan materi gotong royong dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Sekolah juga bisa mengalokasikan ruang dan fasilitas bermain terarah saat jam istirahat. Penting bagi guru untuk secara fleksibel menyesuaikan aturan permainan agar lebih aman, inklusif bagi semua anak, dan sesuai dengan tahapan usia mereka.

Di rumah, peran orang tua tak kalah krusial. Memperkenalkan permainan masa kecil kepada sang buah hati bisa menjadi opsi aktivitas seru yang merekatkan ikatan emosional sekaligus memberikan jeda rehat dari paparan gawai. Selain itu, upaya mendokumentasikan tata cara permainan lokal mutlak diperlukan agar kekayaan budaya ini tidak putus tergerus zaman. Sebagai penutup, kita perlu mengembalikan keyakinan bahwa bermain adalah bagian yang tak terpisahkan dari esensi pendidikan.

Permainan tradisional bukanlah barang usang peninggalan masa lalu, melainkan medium edukatif yang terbukti secara literatur mampu menyokong perkembangan fisik, sosial, dan kognitif anak secara terpadu. Mari, baik pihak sekolah maupun keluarga, bersama-sama memberikan kembali ruang bermain yang aman, mengedukasi, dan penuh kegembiraan. Anak-anak kita tidak perlu dihadapkan pada pilihan sulit antara memeluk teknologi digital atau merawat permainan tradisional; keduanya amat layak mendapat tempat yang proporsional dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.

Penulis: Dela Resta, Erick Vitra, Intan Nursita Dewi, Najwa Rizkita Zahra, Novi Oktavia, Zahra Safira (Kelompok 2 KTIP Mahasiswa Universitas Sriwijaya)
Editor: Manda Dwi Lestari

About Post Author

Nabilla Kartika Wiranti

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kapolda Sumsel Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan Jurnalis saat Meliput Demonstrasi Karhutla