
Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita periode 2026)
Opini-Ukhuwahnews| Munculnya fenomena mahasiswa yang ikut demonstrasi demi uang bukan hanya persoalan moral, tetapi juga ancaman bagi kredibilitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Ketika demonstrasi berubah menjadi pekerjaan sambilan, maka idealisme yang selama ini menjadi identitas mahasiswa perlahan berubah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Jaket almamater seharusnya menjadi simbol intelektualitas, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat. Namun, simbol itu kehilangan maknanya ketika ada mahasiswa yang rela turun ke jalan bukan karena keresahan sosial, melainkan karena amplop yang diselipkan sebelum aksi dimulai.
Gerakan Mahasiswa di Tengah Dinamika 2026
Ironisnya, tahun 2026 justru menjadi periode ketika gerakan mahasiswa kembali menunjukkan eksistensinya. Pada Juni 2026, ratusan mahasiswa di Jakarta melakukan aksi bertajuk ‘Indonesia Menuju Bangkrut’ untuk mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah, kenaikan harga BBM, serta penggunaan anggaran negara yang dianggap tidak tepat sasaran.
Mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan yang lahir dari kegelisahan terhadap kondisi ekonomi dan masa depan demokrasi Indonesia, menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang bergerak atas dasar kesadaran sosial dalam mengkritisi kebijakan publik.
Namun di tengah perjuangan itu kerap muncul stigma di publik: ‘mahasiswa dibayar’, ‘demo pesanan’, atau ‘massa bayaran’. Sebagian tuduhan memang tidak terbukti, tetapi keberadaan segelintir oknum yang bersedia menjual suara perjuangannya membuat citra seluruh gerakan mahasiswa ikut tercoreng.
Integritas yang Dipertaruhkan
Masalahnya bukan sekadar uang, persoalan utamanya adalah hilangnya integritas. Ketika seseorang menerima uang untuk menyuarakan tuntutan yang bahkan tidak ia pahami, maka ia bukan lagi demonstran, melainkan alat kepentingan. Ia hadir bukan untuk memperjuangkan rakyat, tetapi untuk memenuhi kontrak yang dibayar pihak tertentu.
Lebih berbahaya lagi, praktik semacam ini membuat masyarakat sulit membedakan antara gerakan yang lahir dari dorongan kesadaran dengan yang direkayasa. Akibatnya, kritik yang sebenarnya penting justru dianggap sebagai sandiwara politik. Ketika kepercayaan publik hilang, suara mahasiswa tidak lagi memiliki kekuatan moral yang selama ini menjadi modal utama gerakan sosial.
Beda Antara Bantuan Logistik dengan Bayaran Massa
Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar di Indonesia lahir dari gerakan mahasiswa yang berani dan independen. Reformasi 1998 tidak lahir karena amplop, tetapi karena keberanian. Mahasiswa yang turun ke jalan saat itu mempertaruhkan keselamatan, masa depan, bahkan nyawa mereka demi perubahan.
Maka dari itu, sangat menyedihkan apabila generasi hari ini justru menukar idealisme dengan uang transport dan konsumsi. Mahasiswa memang membutuhkan biaya operasional dalam aksi, mulai dari pembuatan spanduk, konsumsi, hingga transportasi. Namun, bantuan logistik berbeda dengan bayaran untuk mengerahkan massa. Bantuan logistik mendukung perjuangan, sedangkan bayaran mengendalikan perjuangan.
Idealisme Tidak Boleh Diperjualbelikan
Karena itu, mahasiswa harus kembali mengingat pertanyaan mendasar, yakni untuk siapa mereka turun ke jalan? Jika jawabannya adalah rakyat, maka tidak ada harga yang bisa membeli suara mereka. Namun jika jawabannya adalah uang, maka mereka telah kehilangan identitas sebagai kaum intelektual.
Pada akhirnya, yang membuat demonstrasi dihormati bukan jumlah massa yang hadir, bukan juga seberapa kerasnya teriakan di jalan, dan bukan ramainya unggahan di media sosial. Namun, yang membuat demonstrasi dihormati adalah kejujuran niat di baliknya, sebab ketika idealisme dijual, yang bangkrut bukan negara melainkan moral dari gerakan mahasiswa itu sendiri.
Editor: Nabilla Kartika Wiranti
About Post Author
Jimas Muamar
More Stories
Piring Kosong Birokrasi atau Rekayasa Sosial?
[caption id="attachment_5933" align="aligncenter" width="711"] Sumber/bgn.go.id[/caption] Penulis: M Rachmad Handika (Mahasiswa S1 Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden...
Kenaikan BBM, Beban Rakyat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
[caption id="attachment_5918" align="aligncenter" width="1290"] SumberInstagram/@pst0re[/caption] Penulis: Ahmad Malik Akbar (Kabid PTKP HMI Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah...
Alat Politik: Soft Propaganda Bisa Dikemas Melalui Lagu
[caption id="attachment_5880" align="aligncenter" width="2560"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Nabilla Kartika Wiranti (Pemimpin Redaksi LPM Ukhuwah 2026) Opini-Ukhuwahnews| Dalam sepekan terakhir laman...
Ketimpangan Infrastruktur dan Beban Logistik terhadap Ekonomi Daerah
[caption id="attachment_5835" align="alignnone" width="2560"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Opini – Ukhuwahnews | Pemerintah Indonesia pada awal tahun 2026 memprioritaskan pemerataan pembangunan infrastruktur...
Program Studi Dianggap Tidak Relevan: Apakah Pendidikan Dituntut untuk Sebatas Memenuhi Kebutuhan Industri?
[caption id="attachment_5809" align="aligncenter" width="1280"] Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Penulis: Manda Dwi Lestari (Redaktur Online LPM Ukhuwah) Opini – Ukhuwahnews | Peringatan Hari...
Lebaran, Tradisi, dan Bayang-Bayang Ketimpangan Gender di Indonesia
[caption id="attachment_5729" align="aligncenter" width="2560"] UkhuwahDesain/Tanya Zalzalbilla[/caption] Opini–Ukhuwahnews| Indonesia merupakan negara dengan letak geografis yang strategis sebagai jalur perdagangan internasional....

Average Rating