Read Time:2 Minute, 31 Second
Ukhuwahdesain/Tanya Zalzalbilla

Penulis: Jimas Muamar (Redaktur Berita periode 2026)

Opini-Ukhuwahnews| Munculnya fenomena mahasiswa yang ikut demonstrasi demi uang bukan hanya persoalan moral, tetapi juga ancaman bagi kredibilitas gerakan mahasiswa itu sendiri. Ketika demonstrasi berubah menjadi pekerjaan sambilan, maka idealisme yang selama ini menjadi identitas mahasiswa perlahan berubah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan.

‎Jaket almamater seharusnya menjadi simbol intelektualitas, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat. Namun, simbol itu kehilangan maknanya ketika ada mahasiswa yang rela turun ke jalan bukan karena keresahan sosial, melainkan karena amplop yang diselipkan sebelum aksi dimulai.

Gerakan Mahasiswa di Tengah Dinamika 2026

Ironisnya, tahun 2026 justru menjadi periode ketika gerakan mahasiswa kembali menunjukkan eksistensinya. Pada Juni 2026, ratusan mahasiswa di Jakarta melakukan aksi bertajuk ‘Indonesia Menuju Bangkrut’ untuk mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah, kenaikan harga BBM, serta penggunaan anggaran negara yang dianggap tidak tepat sasaran.

Mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan yang lahir dari kegelisahan terhadap kondisi ekonomi dan masa depan demokrasi Indonesia, menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang bergerak atas dasar kesadaran sosial dalam mengkritisi kebijakan publik.

Namun di tengah perjuangan itu kerap muncul stigma di publik: ‘mahasiswa dibayar’, ‘demo pesanan’, atau ‘massa bayaran’. Sebagian tuduhan memang tidak terbukti, tetapi keberadaan segelintir oknum yang bersedia menjual suara perjuangannya membuat citra seluruh gerakan mahasiswa ikut tercoreng.

Integritas yang Dipertaruhkan

Masalahnya bukan sekadar uang, persoalan utamanya adalah hilangnya integritas. Ketika seseorang menerima uang untuk menyuarakan tuntutan yang bahkan tidak ia pahami, maka ia bukan lagi demonstran, melainkan alat kepentingan. Ia hadir bukan untuk memperjuangkan rakyat, tetapi untuk memenuhi kontrak yang dibayar pihak tertentu.

Lebih berbahaya lagi, praktik semacam ini membuat masyarakat sulit membedakan antara gerakan yang lahir dari dorongan kesadaran dengan yang direkayasa. Akibatnya, kritik yang sebenarnya penting justru dianggap sebagai sandiwara politik. Ketika kepercayaan publik hilang, suara mahasiswa tidak lagi memiliki kekuatan moral yang selama ini menjadi modal utama gerakan sosial.

Beda Antara Bantuan Logistik dengan Bayaran Massa

Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar di Indonesia lahir dari gerakan mahasiswa yang berani dan independen. Reformasi 1998 tidak lahir karena amplop, tetapi karena keberanian. Mahasiswa yang turun ke jalan saat itu mempertaruhkan keselamatan, masa depan, bahkan nyawa mereka demi perubahan.

Maka dari itu, sangat menyedihkan apabila generasi hari ini justru menukar idealisme dengan  uang transport dan konsumsi. Mahasiswa memang membutuhkan biaya operasional dalam aksi, mulai dari pembuatan spanduk, konsumsi, hingga transportasi. Namun, bantuan logistik berbeda dengan bayaran untuk mengerahkan massa. Bantuan logistik mendukung perjuangan, sedangkan bayaran mengendalikan perjuangan.

Idealisme Tidak Boleh Diperjualbelikan

Karena itu, mahasiswa harus kembali mengingat pertanyaan mendasar, yakni untuk siapa mereka turun ke jalan? Jika jawabannya adalah rakyat, maka tidak ada harga yang bisa membeli suara mereka. Namun jika jawabannya adalah uang, maka mereka telah kehilangan identitas sebagai kaum intelektual.

Pada akhirnya, yang membuat demonstrasi dihormati bukan jumlah massa yang hadir, bukan juga seberapa kerasnya teriakan di jalan, dan bukan ramainya unggahan di media sosial. Namun, yang membuat demonstrasi dihormati adalah kejujuran niat di baliknya, sebab ketika idealisme dijual, yang bangkrut bukan negara melainkan moral dari gerakan mahasiswa itu sendiri.

‎Editor: Nabilla Kartika Wiranti

About Post Author

Jimas Muamar

Jimas Muamar merupakan mahasiswa Program Studi Jurnalistik di UIN Raden Fatah Palembang. Ia aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa Ukhuwah sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan menulis, peliputan, dan analisis media. Dengan minat yang kuat pada dunia jurnalistik, Jimas berkomitmen menghasilkan karya yang informatif, kritis, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Foto Zine Showcase Turut Meriahkan Festival Bulan Juni
Next post Peaky Blinders: Di Balik Topi, Ambisi, dan Luka Perang yang Tak Pernah Sembuh